Jawa Pos Radar Madiun - Perkembangan kecerdasan buatan membawa kemudahan, tetapi juga membuka celah baru.
Kini, suara dan wajah seseorang bisa direplikasi dengan tingkat kemiripan tinggi—bahkan tanpa izin.
Kondisi ini mendorong para selebritas mencari cara baru untuk melindungi diri.
Langkah Taylor Swift ternyata bukan yang pertama. Aktor Matthew McConaughey sebelumnya telah lebih dulu menempuh jalur serupa.
Tim hukumnya berhasil mengamankan sejumlah merek dagang, termasuk suara khasnya saat mengucapkan kalimat ikonik:
“Alright, alright, alright!” dalam film Dazed and Confused.
Secara historis, merek dagang tidak dirancang untuk melindungi suara atau penampilan seseorang. Perlindungan semacam ini biasanya masuk dalam hak publisitas.
Namun, pendekatan baru ini membuka jalur tambahan.
Dengan mendaftarkan suara atau visual sebagai merek dagang, selebritas memiliki “senjata hukum” ekstra untuk melawan konten AI yang meniru mereka.
Cara Kerja Perlindungan Ini
Jika suara atau wajah yang sudah didaftarkan digunakan tanpa izin, pemiliknya dapat mengklaim pelanggaran merek dagang.
Ini berbeda dari klaim biasa, karena menyentuh aspek komersial dan identitas brand.
Dalam konteks AI, strategi ini menjadi semakin relevan karena:
- AI bisa meniru suara dengan presisi tinggi
- Konten palsu bisa menyebar cepat
- Sulit membedakan mana yang asli dan buatan
Langkah yang diambil Swift dan McConaughey bisa menjadi awal dari tren yang lebih luas di industri hiburan.
Ke depan, bukan tidak mungkin lebih banyak artis, musisi, hingga kreator digital akan mendaftarkan suara mereka, melindungi ekspresi visual, dan engamankan persona sebagai aset hukum.
Di era AI, identitas bukan lagi sesuatu yang sepenuhnya melekat secara alami—tetapi perlu dilindungi secara hukum.
Strategi “merek dagang diri sendiri” mungkin terdengar tidak biasa, tetapi kini mulai menjadi kebutuhan nyata bagi para figur publik. (naz)
Editor : Mizan Ahsani