Jawa Pos Radar Madiun – Bulan Mei 2026 jadi momen menarik bagi pecinta film horor.
Deretan judul baru siap hadir di bioskop Indonesia dengan pendekatan cerita yang beragam. Mulai dari misteri psikologis, horor proyek, hingga nuansa folk horror yang mencekam.
Tak hanya mengandalkan jump scare, film-film ini juga menawarkan atmosfer kuat, visual sinematik, serta cerita yang membuat penonton terus penasaran.
1. Salmokji
Film ini mengangkat kisah tim produksi yang melakukan syuting di waduk Salmokji—lokasi yang dikenal memiliki banyak cerita mistis.
Awalnya, proses pengambilan gambar berjalan normal. Namun, semuanya berubah ketika kamera mereka menangkap sosok misterius yang tak kasatmata. Sejak saat itu, gangguan demi gangguan mulai terjadi.
Teror dalam film ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyerang kondisi mental para kru. Atmosfer yang dibangun terasa intens, membawa penonton masuk ke dalam mimpi buruk tanpa jeda.
2. Ain
Berbeda dari horor konvensional, Ain menghadirkan cerita yang lebih personal. Tokoh utama, Joy, terbiasa hidup dengan pujian atas penampilan dan gaya hidupnya.
Namun, pujian yang awalnya terasa menyenangkan perlahan berubah menjadi tekanan yang mengerikan.
Film ini menggambarkan bagaimana sesuatu yang terlihat positif bisa berubah menjadi ancaman yang merusak kehidupan.
3. Tumbal Proyek
Isu tumbal dalam proyek pembangunan menjadi inti cerita film ini. Sebuah proyek infrastruktur yang tak kunjung selesai justru dipenuhi kecelakaan kerja dan korban jiwa.
Baca Juga: Filing for Love Tembus Rating Tinggi, Ini Sinopsis dan Review Lengkap Drakor Komedi Skandal Auditor
Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya praktik ritual gelap demi kelancaran proyek. Teror yang muncul terasa dekat dengan realitas, membuat film ini memiliki daya tarik tersendiri.
4. Gudang Merica
Film ini mengikuti sekelompok mahasiswa kedokteran yang awalnya melakukan penelitian dan praktik medis.
Alih-alih mendapatkan pengalaman belajar, mereka justru terjebak dalam situasi yang penuh ancaman. Kondisi yang semakin kacau membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup.
Editor : Andi Chorniawan