Jawa Pos Radar Madiun - Sebuah desa kecil di lereng gunung yang dulu sepi kini ramai dikunjungi setiap akhir pekan.
Lengkap dengan kafe kekinian dan spot foto yang selalu penuh antrean.
Fenomena ini bukan kebetulan wisatawan domestik makin selektif memilih destinasi yang menawarkan ketenangan, bukan sekadar keramaian.
Kenapa Staycation Makin Diminati?
Setelah pandemi, kebiasaan berlibur banyak orang berubah.
Alih-alih merencanakan perjalanan jauh dan mahal, masyarakat lebih memilih destinasi dekat yang bisa dicapai dalam beberapa jam berkendara.
Tren ini didukung pula oleh meningkatnya kesadaran soal pengeluaran yang efisien tanpa mengurangi kualitas pengalaman berlibur.
Destinasi yang Sedang Naik Daun
Desa wisata berbasis alam, kawasan agrowisata, dan kota kecil dengan warisan budaya kini jadi favorit baru.
Tempat-tempat ini menawarkan suasana otentik yang sulit didapat di destinasi wisata massal.
Pengunjung pun mendapat pengalaman lebih personal, sekaligus jadi pelarian dari rutinitas kota.
Baca Juga: Tanpa Disadari, AI Sudah Ikut Campur di 10 Aktivitas Harianmu
Tips Liburan Hemat tapi Tetap Nyaman
Memesan akomodasi jauh hari dan memilih waktu kunjungan di luar musim ramai dapat menekan biaya signifikan.
Menggunakan transportasi umum lokal juga membantu menghemat anggaran.
Berburu kuliner khas daerah sering jadi cara murah namun berkesan untuk mengenal budaya setempat.
Dampak Tren Ini bagi Ekonomi Lokal
Lonjakan wisatawan domestik turut menggerakkan ekonomi di tingkat desa dan kota kecil.
Usaha penginapan rumahan, pemandu wisata lokal, hingga pelaku UMKM kuliner ikut merasakan manfaat langsung dari tren ini.
Perputaran ekonomi pun tercipta lebih merata di luar kota-kota besar.
Tren wisata domestik membuktikan bahwa liburan berkesan tidak selalu identik dengan biaya besar atau destinasi jauh.
Kadang, pengalaman paling berharga justru ditemukan di tempat yang dekat namun belum pernah benar-benar dijelajahi. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Unversitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun