Jawa Pos Radar Madiun - Pada musim semi tahun 1985, dua musisi muda asal Inggris melakukan perjalanan yang awalnya tampak seperti tur konser biasa. Namun, dalam waktu hanya sepuluh hari, mereka justru menjadi bagian dari sejarah budaya dunia.
Kunjungan Wham! ke China bukan sekadar rangkaian pertunjukan musik, melainkan simbol terbukanya hubungan budaya antara Timur dan Barat pada masa itu.
Melalui Wham! 10 Days in China, penonton diajak kembali menyaksikan perjalanan bersejarah tersebut lewat rekaman yang telah dipulihkan, wawancara eksklusif, dan kisah di balik layar yang belum banyak diketahui publik.
Dokumenter berdurasi sekitar 90 menit ini disutradarai oleh Mike Christie dan diproduksi oleh Supercollider bersama Sony Music Vision.
Baca Juga: Arsenal Pimpin Perburuan Kofane, tapi Newcastle Mendadak Ikut Masuk Bursa
Sinopsis Wham! 10 Days in China
Dokumenter ini akan berfokus pada kunjungan duo pop legendaris Wham!, yang terdiri dari George Michael dan Andrew Ridgeley, ke China pada 15 April 1985.
Saat itu, Wham! mencatat sejarah sebagai grup pop Barat pertama yang tampi di Republik Rakyat Tiongkok.
Selama sepuluh hari, mereka menggelar konser di Beijing dan Guangzhou, sekaligus menjalani aktivitas yang mempertemukan budaya Barat dengan masyarakat China yang saat itu msih relatif tertutup terhadap musik pop internasional.
Selain menampilkan konser, film ini juga memperlihatkan perjalanan mereka mengunjungi berbagai lokasi ikonik, inteaksi dengan masyarakat setempat, hingga tantangan yang harus dihadapi selama tur berlangsung.
Rekaman arsip yang telah direstorasi dipadukan dengan wawancara baru bersama Andrew Ridgeley, anggota tim tur, dan para penggemar yang mengalami langsung peristiwa tersebut.
Fakta Menarik Wham! 10 Days in China
Wham! Menjadi Grup Pop Barat Pertama yang Tampil di China
Salah satu nilai sejarah terbesar dokumenter ini adalah keberhasilan Wham! menjadi grup pop Barat pertama yang menggelar konser di China pada 1985. Momen tersebut dianggap sebagai tonggak penting dalam pertukaran budaya antara China dan dunia Barat.
Menampilkan Rekaman yang Baru Direstorasi
Film ini menghadirkan berbagai cuplikan yang sebelumnya jarang diperlihatkan kepada publik. Seluruh materi arsip telah dipulihkan sehingga penonton dapat melihat perjalanan Wham! dengan kualitas visual yang lebih baik dibanding dokumentasi sebelumnya.
Mengungkapkan Kisah di Balik Tur Bersejarah
Selain konser, dokumenter juga membahas proses panjang yang membuat tur tersebut akhirnya terwujud, termasuk negosiasi dengan pemerintah China dan dampak kunjungan Wham! terhadap citra musik pop Barat di negara tersebut.
Menampilkan Wawancara Eksklusif
Andrew Ridgeley menjadi salah satu narasumber utama yang mengenang kembali perjalanan bersejarah tersebut. Dokumenter juga menghadirkan cerita dari kru tur dan penggemar yang menyaksikan langsung konser pada tahun 1985.
Informasi Penting
- Judul: Wham! 10 Days in China
- Genre: Documentary, Music
- Sutradara: Mike Christie
- Durasi: 90 menit
- Produksi: Supercollider, Sony Music Vision
- Tanggal rilis bioskop: 28 Juli 2026 (rilis terbatas)
Mengapa Wham! 10 Days in China Layak Ditonton?
Dokumenter ini bukan hanya ditujukan bagi penggemar Wham! atau George Michael. Film ini juga menghadirkan sudut pandang menarik tentang bagaimana musik dapat menjadi jembatan diplomasi budaya pada masa yang penuh perubahan politik.
Melalui kombinasi rekaman arsip, wawancara terbaru, dan latar sejarah yang kuat, Wham! 10 Days in China memperlihatkan bahwa sebuah tur konser dapat memberikan dampak jauh melampaui dunia hiburan.
Kunjunan selama sepuluh hari di China tersebut dapat membantu memperkenalkan musik Pop Barat kepada jutaan orang dan menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan karier Wham!.
Bagi penonton yang menggemari dokumenter musik, kisah nyata, maupun sejarah budaya populer, film ini menawarkan pengalaman yang informatif sekaligus emosional. Selain mengenang perjalanan George Michael dan Andrew Ridgeley, dokumenter ini juga memperlihatkan bagaimana musik mampu melampaui batas negara, bahasa, dan ideologi.
Sabrina Ika Ayu Wardhani - Universita Brawijaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun