Jawa Pos Radar Madiun - Kalau kamu penggemar berat Stardew Valley dan sudah menghabiskan ratusan jam bertani, memelihara hewan, dan menjalin hubungan dengan warga desa, Super Zoo Story bisa jadi "candu baru" berikutnya yang wajib kamu lirik.
Game garapan studio PixelGames4You dan dipublikasikan Crytivo ini mengusung gaya visual pixel art yang serupa dengan nuansa hangat Stardew Valley, lengkap dengan elemen RPG dan farming yang familiar.
Bedanya, di sini fokus utamanya bukan lagi bercocok tanam, melainkan membangun dan mengelola kebun binatang impianmu sendiri.
Premis Cerita: Warisan Kebun Binatang yang Menanti Dibangkitkan
Sama seperti premis Stardew Valley yang mengharuskanmu mewarisi ladang tua dari kakek, Super Zoo Story mengajakmu berperan sebagai anak dari pemilik kebun binatang pulau yang sudah lama terbengkalai sejak sang ayah meninggal dunia.
Demi menyelamatkan warisan keluarga sekaligus para hewan yang masih tersisa, kamu mengambil alih tanggung jawab untuk membangun kembali kejayaan kebun binatang tersebut dari nol.
Baca Juga: 5 Game Pixel Ini Wajib Ada di HP Kamu, Dijamin Bikin Lupa Waktu
Mekanik Berbeda, Rasa Familiar
Kalau di Stardew Valley kamu sibuk menanam sayur dan memelihara ternak, di Super Zoo Story fokus utamanya bergeser ke koleksi hewan yang jauh lebih beragam, lebih dari 70 spesies, mulai dari kuda nil, kura-kura, tapir, capybara, gajah, penguin, hingga makhluk eksotis dan bahkan dinosaurus.
Setiap hewan punya kepribadian dan kehidupan unik masing-masing, mirip konsep NPC di Stardew Valley yang bisa kamu dekati dan ajak berteman, bedanya di sini, "relasi" itu terjalin dengan hewan-hewan peliharaanmu sendiri.
Bangun, Rawat, dan Kembangkan Kebun Binatangmu
Gameplay inti berfokus pada pembangunan kandang untuk setiap hewan, lengkap dengan berbagai item dekoratif yang bisa kamu buat sendiri atau beli di pasar, mirip sistem upgrade rumah dan pertanian di Stardew Valley, hanya saja diterapkan pada desain kandang dan taman satwa.
Setiap jenis hewan punya karakteristik dan kebutuhan habitat berbeda-beda, jadi kamu perlu memahami preferensi masing-masing demi menjaga kesejahteraan mereka. Selain kandang darat, kamu juga bertugas membantu warga lokal merenovasi oseanarium dan mengisinya dengan berbagai spesies laut.
Baca Juga: Dijuluki 2D Minecraft, Tapi Kombat dan Progresinya Jauh Lebih Dalam: Kenalan dengan Terraria
Bisa Dimainkan Bareng Teman
Buat yang suka main bareng, Super Zoo Story turut menghadirkan mode co-op, di mana kamu dan teman-teman bisa membangun serta mengembangkan taman satwa bersama-sama.
Cocok untuk yang ingin berbagi keseruan mengurus kebun binatang impian dengan orang terdekat, sensasi yang mirip serunya bertani bareng teman di Stardew Valley versi multiplayer.
Sukses Besar di Kickstarter
Antusiasme publik terhadap game ini terbilang tinggi. Kampanye Kickstarter Super Zoo Story berhasil meraih dana sebesar 252.404 dolar AS dari target awal 60 ribu dolar AS, didukung lebih dari 5.300 backer.
Berkat pencapaian ini, developer berhasil menambahkan konten tambahan seperti 20 hewan langka dan eksotis dengan perilaku unik masing-masing, serta ensiklopedia hewan dalam game yang menjelaskan detail habitat dan preferensi tiap spesies.
Status Rilis: Masih Dalam Pengembangan
Perlu digarisbawahi, Super Zoo Story hingga kini belum resmi dirilis di Steam dan masih berstatus "Coming Soon" sejak pertama kali terdaftar di sistem Steam pada 2021.
Kabar baiknya, proyek ini tetap aktif dikembangkan, closed alpha untuk para backer sudah mulai bergulir sejak April 2026, dan tim developer terus membagikan update pengembangan lewat Kickstarter, media sosial, hingga Discord komunitas.
Cocok Buat Siapa?
Kalau kamu penggemar Stardew Valley yang sudah kehabisan konten dan pengen suasana serupa dengan mekanik segar seputar dunia hewan, Super Zoo Story jelas layak masuk wishlist Steam-mu.
Meski masih dalam tahap pengembangan dan belum ada tanggal rilis resmi, perkembangan proyek ini terus berjalan meski dengan tempo cukup lambat, jadi kesabaran jadi kunci utama sambil menantikan kelahiran resminya. (*)
*Dwiki Dermawan, Magang Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun