Jawa Pos Radar Madiun - Rasanya sulit membayangkan sosok Captain America tanpa wajah Chris Evans. Namun, sebelum dikenal sebagai Steve Rogers selama bertahun-tahun di Marvel Cinematic Universe, Evans ternyata sempat ragu menerima peran tersebut.
Pemilihan Chris Evans sebagai Captain America menjadi salah satu keputusan casting paling penting dalam sejarah MCU.
Marvel harus menemukan aktor yang mampu memerankan du sisi Steve Rogers sekaligus, yaitu seorang pemuda kurus dan sederhana yang dianggap tidak layak menjadi tentara, serta sosok superhero kuat yang kemudian menjadi salah satu pemimpin Avengers.
Baca Juga: Avengers: Doomsday Punya Senjata Rahasia untuk Lawan Doctor Doom, Benarkah Shang-Chi Kuncinya?
Marvel Mencari Sosok yang Tepat untuk Steve Rogers
Ketika Marvel mulai mempersiapkan Captain America: The First Avenger, tantangan terbesar bukan hanya menemukan aktor terkenal. Mereka membutuhkan pemeran yang mampu membuat penonton percaya pada perjalanan Steve Rogers dari seorang pemuda yang diremehkan menjadi simbol kepahlawanan.
Marvel bahkan mempertimbangkan sejumlah nama sebelum akhirnya menetapkan pilihan. Beberapa aktor yang sempat dikaitkan dengan proses casting antara lain John Krasinski, Channing Tatum, Ryan Phillippe, Garrett Hedlund, Jensen Ackles, Wyatt Russell, hingga Chris Pratt.
Namun, Chris Evans akhirnya menjadi pilihan utama. Menurut casting director Sarah Halley Finn, Evans memiliki kombinasi kualitas yang dibutuhkan untuk karakter tersebut.
Ia dianggap memiliki kerendahan hati yang mudah membuat penonton merasa dekat dengannya, sekaligus mampu menunjukkan kerentanan dan kekuatan Steve Rogers.
Chris Evans Sempat Menolak Peran Captain America
Menariknya, keputusan Evans untuk menerima Captain America tidak datang dengan mudah. Ia sempat menolak tawaran tersebut beberapa kali sebelum akhirnya bersedia bergabung dengan Marvel.
Evans kemudian mengakui bahwa dirinya merasa takut dengan besarnya konsekuensi jika menerima peran tersebut.
"If the movie bombs, I'm f-ed! If the movie hits, I'm f-ed!" (Kalau filmnya gagal total, tamatlah riwayatku! Kalau filmnya sukses besar, tamat juga riwayatku) ujar Chris Evans.
Ketakutan tersebut cukup masuk akal. Saat itu, Captain America bukan sekadar satu film biasa. Marvel ingin menjadikan Steve Rogers sebagai salah satu fondasi penting bagi semesta sinematik yang sedang mereka bangun.
Evans akhirnya menyadari bahwa keraguannya lebih banyak berasal dari rasa takut daripada pertimbangan mengenai karakter itu sendiri. Ia kemudian menerima tawaran tersebut dan menandatangani kontrak multi-film dengan Marvel.
Dari Steve Rogers hingga Pemimpin Avengers
Keputusan Evans menerima peran tersebut akhirnya mengubah perjalanan kariernya sekaligus menjadi bagian penting dalam perkembangan MCU.
Captain America: The First Avenger memperkenalkan Steve Rogers sebagai pemuda yang ingin berkontribusi dalam Perang Dunia II tetapi terus ditolak karena kondisi fisiknya. Setelah mengikuti program eksperimen Super Soldier, ia berubah menjadi Captain America dan bergabung dalam perjuangan melawan HYDRA.
Film akhirnya rilis pada 22 Juli 2011 dan disutradarai Joe Johnston. Selain Evans, film ini menampilkan Hayley Atwell sebagai Peggy Carter, Sebastian Stan sebagai Bucky Barnes, Tommy Lee Jones sebagai Colonel Chester Phillips, serta Hugo Weaving sebagai Red Skull.
Perjalanan Steve kemudian berlanjut dalam The Avengers, Captain America: The Winter Soldier, Avengers: Age of Ultron, Captain America: Civil War, Avengers: Infinity War, hingga Avengers: Endgame.
Marvel mencatat The First Avenger sebagai kisah tentang masa awal semesta Marvel dan transformasi Steve menjadi Super Soldier.
Mengapa Chris Evans Begitu Cocok sebagai Captain America?
Salah satu alasan keberhasilan Evans adalah kemampuannya mempertahankan sisi manusiawi Steve Rogers.
Meski memiliki kekuatan super, Steve tetap digambarkan sebagai karakter yang memiliki prinsip kuat, rasa bersalah, keraguan, dan kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya. Evans mampu membuat perubahan fisik Steve tidak menghilangkan karakter dasarnya.
Bahkan dalam proses casting, pembuat film memang mencari aktor yang dapat meyakinkan penonton ketika melihat perubahan ekstrem dari Steve yang kurus menjadi Captain America. Chris Evans dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Kekuatan karakter itu pula yang membuat Captain America berkembang dari seorang tentara dalam film periode Perang Dunia II menjadi salah satu pusat emosional MCU.
Warisan Chris Evans sebagai Steve Rogers
Perjalanan Chris Evans sebagai Captain America akhirnya menjadi salah satu casting paling ikonik dalam film superhero modern. Yang menarik, peran tersebut hampir tidak terjadi karena keraguan Evans sendiri.
Marvel tidak hanya membutuhkan aktor yang terlihat seperti superhero. Mereka membutuhkan seseorang yang bisa membuat penonton peduli terhadap manusia di balik kostum tersebut.
Evans berhasil memberikan sisi rapuh, humor, keberanian, sekaligus keteguhan yang membuat Steve Rogers terasa lebih dari sekadar karakter berkekuatan super.
Pada akhirnya, keputusan yang sempat membuat Evans takut justru melahirkan salah satu karakter paling dikenal dalam sejarah MCU. Captain America versi Chris Evans tidak hanya menjadi wajah dari sebuah franchise, tetapi juga menjadi representasi perjalanan MCU dari fase awal hingga salah satu titik paling emosionalnya. (Mahasiswi Magang Universitas Brawijaya, Sabrina Ika Ayu Wardhani)
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : Marvel Studios