Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lokasi Asli Warung Kopi Pangku di Pantura Jadi Tempat Syuting Film Pangku Eretan Kulon, Pusat Detak Pantura

Dwita Ikhtiananda • Sabtu, 15 November 2025 | 00:05 WIB

 

 

 

Pantura dan warung kopi pangku menjadi inspirasi di balik film Pangku karya Reza Rahardian.
Pantura dan warung kopi pangku menjadi inspirasi di balik film Pangku karya Reza Rahardian.

Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah perkembangan industri film Indonesia yang semakin kompleks, Pangku hadir sebagai karya yang tidak hanya memukau secara artistik, tetapi juga membongkar realitas sosial yang selama ini tersembunyi di pinggir jalan Pantura.

Debut penyutradaraan Reza Rahardian ini lahir dari pengamatan langsung terhadap fenomena “kopi pangku”, tradisi unik yang selama bertahun-tahun menjadi denyut kehidupan malam di pesisir Jawa Barat, khususnya Indramayu dan kawasan Eretan.

Fenomena Kopi Pangku: Tradisi Pesisir yang Sarat Luka dan Harapan

Sebelum memahami filmnya, penting melihat akar fenomena ini.

“Kopi pangku” bukan sekadar aktivitas menikmati minuman.

Di warung-warung kecil sepanjang Pantura, pelayan perempuan diharapkan menemani pelanggan bahkan duduk di pangkuan mereka.

Tradisi ini mencerminkan kerasnya tekanan ekonomi pesisir, membuat banyak perempuan muda terjebak dalam pekerjaan yang mudah diakses namun penuh stigma.

Namun, di balik label negatif tersebut, ada kisah-kisah bertahan hidup.

Saat menjalani syuting film lain di Pantura pada 2020, Reza untuk pertama kalinya melihat fenomena itu secara langsung.

"Saya tergerak setelah melihat banyaknya warung kopi pangku di sepanjang jalur tersebut," sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa Pangku lahir dari kepedulian, bukan sekadar sensasi.

Awal Inspirasi: Momen Kecil yang Mengubah Perspektif

Reza menceritakan bahwa ide Pangku bermula ketika ia singgah di sebuah warung kopi Pantura dan menyaksikan rutinitas malam yang penuh dinamika: sopir truk melepas lelah, pelayan perempuan mencari nafkah, dan masyarakat lokal berbagi cerita.

Percakapan dengan warga semakin membuka matanya mengenai alasan di balik profesi kopi pangku.

Seperti minimnya akses pendidikan, sempitnya pilihan kerja, dan situasi ekonomi yang menjerat.

Dari pengalaman itulah ia memutuskan untuk menjadikannya dasar film debutnya sebagai sutradara.

Ia dan Felix K. Nesi melakukan riset panjang, mengunjungi desa-desa pesisir, menyerap dialek, gerak tubuh, hingga suara khas Pantura.

“Kami ingin cerita ini autentik, bukan sekadar rekonstruksi,” ujar Reza saat menjelaskan proses kreatifnya.

Lokasi Autentik: Eretan Kulon, Pusat Detak Pantura

Syuting Pangku dilakukan di Eretan Kulon, Indramayu.

Sebuah desa nelayan yang menjadi cerminan sempurna realitas yang ingin dihadirkan film ini.

Lokasi tersebut menyajikan suasana pesisir yang kuat: pantai berpasir hitam, jalan raya Pantura yang tak pernah tidur, dan deretan warung kopi yang menyala hingga tengah malam.

Tidak ada set buatan. Rumah bambu reyot, warung kopi asli, hingga kafe dangdut lokal digunakan sebagai latar.

Tim produksi benar-benar berbaur dengan nelayan dan sopir truk, menangkap suara ombak, klakson kendaraan, dan hiruk-pikuk malam Pantura. 

“Lokasi ini seperti karakter ketiga dalam film,” jata Produser Arya Ibrahim.

Dari Riset ke Layar Perak: Tantangan di Balik Produksi

Menggarap film dengan isu sensitif tidaklah mudah.

Tim menghabiskan waktu untuk wawancara mendalam dengan perempuan yang bekerja di warung kopi pangku.

Banyak dari mereka bercerita jujur bahwa profesi ini “mudah dan cepat menghasilkan uang,” namun membuat mereka terjebak dalam eksploitasi dan utang budi.

Cuaca pesisir yang ekstrem serta logistik yang menantang membuat proses syuting semakin kompleks.

Namun, kerja keras Reza dan para pemainnya, Claresta Taufan, Christine Hakim, dan Fedi Nuril, menghasilkan performa yang kuat.

Fedi bahkan mengaku sempat kesulitan menyesuaikan diri dengan dialek lokal.

Keputusan artistik Reza juga berbeda dari film-film Pantura pada umumnya.

Alih-alih menggunakan musik dangdut enerjik, ia memilih scoring sendu, termasuk menampilkan lagu “Rayuan Perempuan Gila” dari Nadin Amizah untuk memperkuat nuansa emosional.

Upaya itu membuahkan hasil. Pangku tayang perdana pada 6 November 2025, menyabet empat penghargaan di BIFF, termasuk FIPRESCI Award dan meraih tujuh nominasi di Festival Film Indonesia (FFI) 2025.

Dampak Sosial: Membuka Luka, Menghadirkan Empati

Lebih dari sebuah film, Pangku mengajak penonton mengulik isu gender, kemiskinan struktural, dan pilihan hidup yang sering kali tidak benar-benar menjadi pilihan.

Ia mengingatkan bahwa di balik secangkir kopi, ada pergulatan manusia yang selama ini luput dari sorotan.

Kunjungi Pantura suatu hari nanti untuk merasakan denyut kehidupan yang menginspirasi lahirnya film ini. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Lokasi Film #jalur pantura #Film Pangku