KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Berbagai perkakas pandai besi tampak memenuhi sebuah ruangan di depan rumah Tino Budiarto di Jalan Ciliwung, Josenan, Taman. Sementara, si empunya rumah terlihat sedang memanaskan baja di tungku pembakaran. Sesekali baja dibolak-balik agar terbakar merata. Di saat lain, mata Tino sedikit terpejam ketika percikan api menyembur dari tungku.
Setelah baja berubah warna menjadi merah-kekuningan, Tino lantas menempanya dengan palu. Kemudian, usai melewati sejumlah tahapan, jadilah sebuah pedang yang tajam sekaligus tampak bernilai seni tinggi. ‘’Kebetulan saya menyukai katana (pedang ala Jepang, Red),’’ kata Tino, Jumat (18/3).
Sebelum proses penempaan baja dilakukan, Tino terlebih dahulu membuat sketsa kasar di kertas. Setelah itu, dirapikan di komputer. Desainnya harus simetris karena menentukan ketajaman senjata. Pun, berat antara gagang dan bilahnya mesti seimbang.
Sudah setahun lebih Tino menekuni dunia bladesmith alias seni pembuatan senjata tajam. Sebelum itu, dia hanya menerima reparasi pisau. Selama proses belajar, pria 38 tahun itu kerap gagal di tahap penyepuhan atau pengerasan baja. ‘’Kalau tidak pintar-pintar mengatur tingkat panasnya, bisa retak atau patah,’’ ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, Tino akhirnya menemukan teknik khusus agar senjata tidak retak atau patah saat disepuh. Pun, hingga saat ini sudah 600 lebih senjata tajam buatannya yang terjual. ‘’Kirim ke berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri,’’ ujarnya.
Berbagai jenis senjata tajam telah dibuat Tino. Mulai pisau dapur, golok, pedang, bushcraft alias pisau survival, hingga kunai khas ninja. Namun, yang paling banyak dipesan adalah kerambit. Pemesan jenis senjata yang disebut terakhir kebanyakan perguruan pencak silat.
Kendati kemampuan pandai besinya semakin mumpuni, Tino enggan menerima kelewat banyak pesanan. Sebab, sehari-hari dia juga bekerja sebagai tukang tato. ‘’Biasanya saya kerjakan pagi atau sore,’’ katanya. ‘’Kalau pisau, sekali bikin bisa dua sekaligus,’’ imbuhnya.
Keahlian Tino membuat senjata tajam mewarisi sang ayah yang merupakan seorang tukang jamas pusaka dan pembuat warangka keris. Pun, memiliki bengkel las. Saat kecil Tino sudah diajari cara membuat cincin dari uang logam. Setelah ayahnya meninggal, dia mulai memanfaatkan peranti yang ada untuk membuat bengkel bladesmithing di rumahnya. ‘’Ada supplier khusus yang memasok bahan bajanya,’’ ungkapnya.
Tino memiliki mimpi bisa membuat pedang Damaskus. Namun, belum memungkinkan lantaran bengkelnya berada tepat di pinggir jalan dan tengah permukiman penduduk. Pasalnya, pembuatan pedang Damaskus butuh api yang lebih besar. ‘’Semoga nantinya punya bengkel yang nyaman dan tidak mengganggu tetangga,’’ harapnya. (mg7/isd/c1/her)
Editor : Hengky Ristanto