KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Setelah memastikan susu buatannya dingin, Indah Rahma Shinta meraih musang piaraannya. Sambil memangkunya, perempuan itu lantas meminumkan susu yang telah dimasukkan botol susu bayi ke musang jenis biul yang baru berumur empat bulan tersebut. Warna tubuhnya merah kecokelatan dan bulu-bulunya belum tumbuh merata.
Musang tersebut didapat Rahma dari Magetan. Sebelumnya, binatang itu diamankan warga setelah muncul di permukiman. Diduga musang tersebut turun dari Gunung Lawu untuk berburu telur ayam. ‘’Lalu, suami saya dihubungi untuk mengambilnya,’’ kenang Rahma, Jumat (17/3).
Musang jenis biul memiliki keunikan tersendiri. Yakni, kerap mengeluarkan bau tidak sedap. Aroma tersebut biasanya keluar ketika sedang dalam bahaya. Namun, Pringadi –suami Rahma- punya kiat khusus untuk mengatasinya. Yaitu, mengganti makanan yang bisa menimbulkan bau. ‘’Kami beri makanan non-serangga dan dikondisikan selalu nyaman agar tidak mengeluarkan bau,’’ ujarnya.
Berkat ketelatenan Adi –sapaan akrab Pringadi- dan Rahma, musang itu tumbuh sehat. Bahkan, sempat meraih juara I kontes di Semarang pada 2015 dan juara II event yang sama di Karanganyar tiga tahun lalu. ‘’Waktu itu bersaing dengan beberapa jenis mamalia lain seperti garangan Sumatera, rase mozaik, dan ferret (biul luar negeri, Red),’’ ungkapnya.
Saat ini Adi memiliki delapan koleksi musang. Perinciannya, jenis biul dua, pandan (1), bulan (2), otter alias berang-berang (2), dan akar Jawa (1). Setiap jenis musang memiliki karakteristik berbeda. Musang pandan, misalnya, mengeluarkan bau wangi untuk menarik betina. ‘’Satu jenis musang bisa berbeda lokalitinya,’’ sebut Adi.
Bagi Adi, merawat musang tidak ada kesulitan berarti. Setiap pagi dan sore diberi makanan berupa telur rebus, pisang, atau makanan kering. Sedangkan malam hari diupayakan perutnya kenyang agar musang tidak aktif dan bisa istirahat cukup. ‘’Kandang diusahakan bersih dan dua minggu sekali dimandikan,’’ ujarnya.
Kecintaan Adi pada musang membuatnya getol mengampanyekan kelestarian jenis mamalia itu lewat slogan ‘’Luak bukan lauk’’. Artinya, keberadaan musang tidak untuk dikonsumsi. Pun, selama ini dia tidak pernah memperjualbelikan musang hasil temuannya. ‘’Kita juga informasikan ke masyarakat bahwa ada jenis musang yang dilindungi,’’ tutur perintis komunitas Musang Lovers Madiun itu. (mg7/isd/c1/her)
Editor : Hengky Ristanto