PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Kepiawaian Muhammad Wahyu Wibowo membuat reog diakui mancanegara. Perajin asal Desa Nambangrejo, Sukorejo, itu mengajarkan kita bahwa sukses tak harus menginjakkan kaki ke luar negeri.
-------------------------------------
JEMARI BOWO, sapaan Muhammad Wahyu Wibowo, cekatan menyasak ekor kuda menggunakan sisir besi. Setelah dirasa cukup, lalu dipasangkan ke kepala barongan. Dengan telaten menancapkan ikat demi ikat rambut tersebut. Sejurus kemudian mengambil kuas dan kaleng bekas cat berisi lem dan air. Dia mulai memercikkan bahan itu ke seluruh bagian rambut yang sudah dipasang di kepala barongan. Campuran bahan itu untuk membuat rambut menjadi kaku.
Kali ini, Bowo tengah menyelesaikan orderan barongan dari Kediri berukuran 1,2 meter dengan berat sekitar 50 kilogram. Berderet blongkangan (kerangka) kepala barongan juga tampak di rumah produksinya di Desa Nambangrejo, Sukorejo. Ada 26 pesanan yang harus diselesaikan Bowo. ‘’Ini sudah ada pesanan baru dengan ukuran 2,25 meter, itu paling besar yang pernah saya kerjakan,’’ ujar pria 27 tahun itu.
Di usianya yang masih belia, Bowo memutuskan berkarya di desa sendiri. Dia mulai menjadi perajin barongan sejak 2018 silam. Menjadi kebanggaan tersendiri baginya jika hasil karyanya merambah mancanegara. Meskipun dia belum pernah menginjakkan kaki ke luar negeri. Darah seninya diwarisi ayahnya yang juga perajin topeng bujang ganong. ‘’Sejak SMA sudah bantu-bantu ayah pasang rambut topeng bujang ganong. Setelah bisa, ngajak adik buat kepala barongan,’’ jelasnya.
Bowo yakin, dengan kemauan yang kuat apa yang dicita-citakan bakal tercapai. Awal mula membuat barongan, dia harus meminjam barongan bekas milik temannya untuk dipelajari detailnya. Dia juga sering tanya-tanya ke teman perajin. ‘’Saya belajar ke Magetan, namanya Pak Kasim, perajin sukses di sana,’’ ujarnya.
Bowo mantap memulai produksi barongan di rumahnya. Tahun berganti tahun, namanya naik daun. Bahkan, tahun lalu dia mendapat pesanan satu set reog dari pemerintah Taiwan. Pesanan itu digunakan untuk koleksi museum di Negeri Formosa tersebut. Pun disandingkan dengan koleksi dari negara-negara lain. Belum lama ini, Bowo kembali mendapat pesanan dari Jepang dan Australia. ‘’Tidak hanya barongan atau dadak merak, terkadang ada juga yang pesan satu set reog,‘’ ungkapnya.
Saking banyaknya orderan sempat membuatnya kewalahan. Seperti awal pandemi 2020 lalu. Dalam dua bulan dia mendapat pesanan 30 blongkangan barongan. Bowo mengajak adiknya membantu menyelesaikan pesanan itu. ‘’Saya ajari, terus saya beri bagian. Saya membuat kerangkanya, dia yang finishing,’’ urainya.
Sebagai perajin, Bowo bisa dibilang paket komplet. Dia juga seorang YouTuber. Proses produksi yang dilakoninya diabadikan menjadi konten. Selain untuk memberi edukasi pembuatan barongan, langkah itu turut membumikan reog ke berbagai penjuru dunia. Dia juga berencana membuat buku tentang barongan dari waktu ke waktu. ‘’Jika nanti saya tua, tulisan itu dapat memberi informasi mengenai barongan kepada generasi ke depan,’’ pungkasnya. *** (tr3/kid/c1)
Editor : Hengky Ristanto