MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Meski zaman sudah serbadigital, layang-layang ternyata masih memiliki penggemar. Buktinya, layangan buatan Ahmad Putra Nur Rifai tetap laris manis. Terutama saat musim menerbangkan layang-layang seperti sekarang.
----------------------------------------
SEMILIR angin siang itu menemani Ahmad Putra Nur Rifai nyisik bambu hitam menjadi beberapa potongan. Setelah itu, dia mengambil tali rafia yang sudah dibelah tipis untuk menggabungkan ujung-ujung bambu tersebut menjadi sebuah kerangka layang-layang.
Kemudian, Rifai melakukan pengecekan keseimbangan kerangka dengan jari telunjuknya untuk memastikan layang-layang bisa terbang dengan sempurna. ‘’Biasanya bikin layangan malam hari. Soalnya, pagi sampai sore sekolah,’’ ujar remaja yang baru lulus madrasah aliyah itu.
Rifai akrab dengan layang-layang sejak kecil. Kemudian, saat sekolah di madrasah tsanawiyah pada 2017 silam dia bersama beberapa temannya coba membuat layangan bermotif dan berukuran besar. ‘’Tidak pernah pakai alat ukur. Mengandalkan feeling saja,’’ ungkapnya.
Selama ini, Rifai hanya membuat layangan saat memasuki musim kemarau. Dia sengaja menggunakan bambu hitam untuk kerangkanya. Bambu jenis itu di-sisik menjadi potongan berbagai ukuran dan ketebalan sesuai model layangan yang akan dibuat. ‘’Samak-nya pakai kertas minyak,’’ sebut warga Desa Rejosari, Kebonsari, Kabupaten Madiun, itu.
Setelah proses pembuatan selesai, layangan lantas diuji terbang. Layangan disebut layak jual jika mampu terbang sempurna. Yakni, tidak mudah oleng dan tak gampang jatuh. ‘’Meskipun bagus, kalau tidak bisa terbang, pembeli ya kecewa,’’ ucapnya.
Namun, tidak selamanya uji coba berjalan mulus. Tidak jarang Rifai merugi lantaran layangan yang diterbangkan putus dan tak diketahui rimbanya. Pun, terkadang tidak bisa terbang dengan sempurna hingga memaksanya melakukan perbaikan.
Rifai rata-rata membutuhkan waktu 1-3 hari untuk menyelesaikan satu buah layangan. Tergantung kerumitan dan ukuran yang dipesan. Sementara, harga yang dibanderol bervariasi, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu. ‘’Dalam sebulan rata-rata menghasilkan 10-20 layangan besar,’’ katanya. *** (mg3/isd/c1)
Editor : Hengky Ristanto