MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Berawal dari sekadar hobi, Siti Suwarni kini sukses menjadi perajin batik tulis. Ajang fashion show di berbagai daerah pun telah dijajal warga Desa Balerejo, Kecamatan Kebonsari, tersebut. Tak hanya itu, Siti berhasil mengajak puluhan warga mengikuti jejaknya sebagai pembatik.
---------------------------------------
BEBERAPA lembar kain batik dengan kondisi masih proses pewarnaan maupun setengah jadi tampak berjajar di ruangan berukuran sekitar 10x10 meter persegi itu. Masing-masing dibeber di kerangka berbentuk persegi panjang. ‘’Kalau ada terik matahari biasanya kami keluarkan. Tapi, kalau sedang mendung harus diangin-anginkan dengan kipas,’’ kata Siti Suwarni.
Siti menggeluti kerajinan batik tulis sejak 2010 silam. Bermula dari tuntutan pekerjaannya dulu sebagai guru sekolah luar biasa (SLB) yang mengharuskannya mengikuti pelatihan membatik. Belakangan, tidak sekadar diajarkan ke murid-muridnya, Siti tergerak untuk memproduksi secara rutin di rumahnya.
Awalnya Siti hanya membuat batik dengan motif klasik. Dia baru menciptakan corak baru khas Kabupaten Madiun setelah pemkab setempat menggelar lomba membatik yang disusul studi banding ke Solo. Di sisi lain, dia rajin mengajak warga menekuni kerajinan batik. ‘’Dulu hanya ada enam pembatik, sekarang jadi 24 orang,’’ sebut ketua Paguyuban Pembatik Kabupaten Madiun itu.
Bagi Siti, batik perlu terus dikenalkan kepada anak-anak muda. Tidak hanya identik dengan orang tua. Karena itu, dia sengaja memproduksi batik dengan warna-warna soft dan corak yang elegan. ‘’Biar anak muda suka,’’ kata warga Desa Balerejo, Kecamatan Kebonsari, itu.
Selain kerap ditampilkan dalam fashion show di berbagai daerah, produk batik tulis karya Siti sudah menembus pasar mancanegara. Bahkan, beberapa waktu lalu dia sempat mendapat order puluhan baju batik dari Jepang. ‘’Katanya motif-motif batiknya sesuai selera mereka,’’ ungkapnya.
Batik buatan Siti dibanderol dengan harga Rp 200 ribu hingga paling mahal Rp 1,3 juta. Dalam sebulan perempuan itu mampu memproduksi hingga 200 lembar kain batik tulis. *** (mg3/isd/c1)
Editor : Hengky Ristanto