NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Andai tidak nge-trail bersama kawannya enam tahun silam, Kiman mungkin tidak akan menjual makanan ekstrem ini. Dari sebuah kawasan hutan, ide membuat botok tawon itu pun muncul. Seperti apa kisahnya?
--------------
Duduk di atas meja kayu, tangan kanan seorang perempuan tidak henti menyedok makanan di bungkus daun pisang. Disusul sesendok nasi, mulutnya lahap mengunyah sajian warung makan di Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, itu.
Kendati bentuknya menyerupai garang asam, makanan berkuah yang menggoyang lidah itu dinamakan botok tawon. ‘’Bumbunya hampir sama garang asam, tapi pelanggan seringnya menyebut botok karena bungkusnya dari daun pisang,’’ kata Kiman, pemilik warung makan tersebut.
Ya, tawon yang kehadirannya coba dihindari agar tidak disengat itu nyatanya bisa dimasak menjadi makanan lezat. Bedanya, Kiman menggunakan tawon muda yang masih berwujud larva beserta sarangnya.
Bahan utama itu dimasak dengan campuran belimbing wuluh, tomat, cabai rawit, santan, dan daun salam. Kombinasi bumbu dapur tersebut untuk memunculkan cita rasa nano-nano. ‘’Asam, pedas, manis, dan harum,’’ ujar pria 54 tahun tersebut.
Kiman merintis usaha warung makan dengan menu awal mangut patin pada Agustus 2016. Ide menambah makanan yang tergolong ekstrem itu muncul di akhir tahunnya. Kiman menjumpai sarang tawon saat menjelah sebuah kawasan hutan bersama anggota komunitas motor trail-nya.
Kawannya lantas menyarankan menambah makanan dari serangga penghasil madu tersebut. ‘’Saya coba ternyata peminatnya cukup banyak,’’ kenangnya.
Kiman tidak mencari sendiri larva tawon dan sarangnya, melainkan membeli dari pedagang asal Ngawi, Ponorogo, Kabupaten Madiun, hingga Pacitan. Pembelian 10 kilogram bisa untuk olahan selama sepekan. Kakek satu cucu itu biasanya membuat 30 bungkus botok tawon per hari.
Ketika ada pesanan acara kantor, jumlahnya meningkat hingga 50 bungkus. ‘’Satu porsi botok tawon dengan nasi dijual Rp 15 ribu,’’ katanya sembari menyebut pelanggannya datang dari luar daerah, seperti Bojonegoro, Tuban, Surabaya, Cepu, Jawa Tengah, dan Jogjakarta.
Kandungan protein botok tawon diklaim cukup tinggi. Makanan itu disebut berkhasiat menambah stamina. Kendati demikian, tidak semua orang cocok mengonsumsinya. Selama enam tahun berjualan, Kiman mendapati dua pembeli makan di warung mengalami biduran.
Pelanggannya tersebut kemungkinan tidak mengetahui tubuhnya alergi botok tawon. ‘’Kalau ada yang gatal-gatal, saya menyarankan beli obat di apotek,’’ tutur pria yang sempat menjadi sopir truk dam ini.
Khotijah, 53, salah satu pelanggan tetap botok tawon yang dijual Kiman. Sebulan bisa membeli dua kali, baik bersama anggota keluarga atau sendirian. Semasa kecil, ibunya sering membuat botok tawon. ‘’Menyimpan memori tersendiri bagi saya,’’ ucap warga Desa Beran, Ngawi, tersebut. ***(cor)
Editor : Hengky Ristanto