MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Kerupuk merupakan salah satu jenis makanan yang paling merakyat. Namun, hasil olahan Agus Fitrianto ini sedikit berbeda dengan produk serupa yang beredar di pasaran. Pria itu memproduksi kerupuk terasi Tawang. Pun, pelanggannya tersebar di berbagai daerah Madiun Raya.
---------------------
DENGAN lincah tangan Agus Fitrianto menata potongan kerupuk basah di papan bambu persegi panjang. Sementara, deru mesin pemotong terdengar dari dalam rumah warga Desa Ketawang, Dolopo, Kabupaten Madiun, itu. ‘’Dulu memotongnya manual pakai tangan. Setelah usaha jalan lima tahun baru bisa beli alat pemotong,’’ ujar Agus.
Kerupuk hasil produksi Agus dikenal dengan sebutan kerupuk Tawang. Usaha itu awalnya milik orang tua. Kemudian, pada 1990 dikelola kakak Agus. ‘’Dulu di desa ini banyak yang memproduksi kerupuk. Sekarang tinggal delapan perajin yang masih bertahan, termasuk saya dan kakak saya,’’ kata Agus.
Agus sendiri menekuni usaha kerupuk Tawang sejak 2005 silam. Selama ini, proses produksi hanya dibantu orang tua, istri, dan anaknya. Pun, dia memilih mempertahankan resep original temuan orang tuanya. ‘’Sebenarnya warna kerupuk bisa dibikin warna-warni, tapi pelanggan lebih suka yang kuning,’’ imbuh pria 42 tahun itu.
Dalam sehari, Agus mampu memproduksi sekitar 1,5 kuintal kerupuk kering siap goreng. Jumlah itu bisa melonjak dua kali lipat saat musim Lebaran dan hajatan. ‘’Dulu waktu masih muda bisa sampai 3-5 kuintal sehari. Sekarang karena dikerjakan sendiri dan orang tua sudah sepuh jadi berkurang,’’ ungkapnya.
Agus menjual kerupuknya dalam bentuk pak isi 5 kilogram. Satu pak dibanderol dengan harga Rp 60.000. Dalam sehari dia bisa mengirim hingga 30 pak ke pelanggan yang tersebar mulai Kabupaten dan Kota Madiun, Ponorogo, Pacitan, Magetan, dan Ngawi. Bahkan, Agus pernah mengirim ke Sumatera. ‘’Kadang saya antar. Ada juga yang langsung ambil ke sini,’’ ujarnya. *** (mg3/isd)
Editor : Hengky Ristanto