-------------
Alunan gamelan dan korek terdengar jelas saat memasuki sanggar milik Tri Sakti Hendrianto di Desa Sumberbening, Balerejo. Bersamaan itu, tampak beberapa orang berkostum dongkrek memeragakan tarian mengikuti irama musik pengiring. ‘’Ya seperti ini kalau sedang latihan,’’ ujar Andri, sapaan akrab Tri Sakti Hendrianto.
Sudah 21 tahun Andri mendedikasikan hidupnya nguri-uri kesenian dongkrek. Bermula dari keprihatinan mengetahui seni khas Kabupaten Madiun itu terancam punah.
Berbekal pengalaman bermain dongkrek saat kecil, dan masih sekolah, dia lantas mendirikan sanggar. ‘’Anggotanya dari berbagai kalangan. Mulai anak-anak, remaja, sampai yang sudah tua,’’ ungkapnya.
Singkat cerita, sanggar yang dikelola Andri lambat laun dikenal masyarakat luas. Bahkan, pada 2005 silam pria 56 tahun itu mendapat undangan pentas di Istana Negara memeriahkan sebuah acara budaya Nusantara. ‘’Sejak itu, dongkrek semakin dikenal masyarakat luar daerah,’’ sebutnya.
Di sisi lain, sanggar dongkrek yang belakangan ini bermunculan di Kabupaten Madiun menjadi kebanggaan tersendiri bagi Andri. Terlebih, pemkab setempat terbilang intens mendorong kelestarian kesenian yang dipercaya bisa mengusir pagebluk itu. ‘’Harapan saya semoga dongkrek bisa menasional, bahkan go international,’’ tuturnya. *** (isd) Editor : Hengky Ristanto