--------------
DENGAN hati-hati Intan Purbawati menempelkan mini diamond string pada bodi tasbih digital menggunakan lem khusus. Sesekali perempuan itu mengamati dari dekat untuk memastikan pernik tersebut telah tertempel rapi tanpa celah.
Pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang hingga jadilah beberapa tasbih digital hias dengan warna pernik berbeda. Ada biru, ungu, pink, silver, hingga keemasan. ‘’Sejak kuliah saya sering bikin aneka kerajinan,’’ kata warga Jalan Borobudur Gang V, Kelurahan Madiun Lor, Manguharjo, itu.
Sebelum memproduksi tasbih digital hias, Intan sempat menekuni beberapa jenis usaha. Salah satunya bidang makanan dan minuman (mamin). Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. ‘’Akhirnya pada 2019 lalu saya menemukan ide bikin kerajinan tasbih digital dengan hiasan diamond string,’’ ungkapnya.
Meski begitu, butuh waktu sekitar setahun bagi Intan untuk bisa menghasilkan tasbih digital hias yang sempurna. Sebelumnya, hasil pengeleman mini diamond string kurang rapi. ‘’Kadang juga tidak bisa melekat kuat,’’ ujar perempuan 37 tahun itu.
Saat ini Intan memproduksi dua macam tasbih digital hias. Yakni, jenis LED dan non-LED. Pun, dia telah memanfaatkan pemasaran online. Penjualan paling tinggi saat musim haji. ‘’Sehari bisa kirim sampai 300 pieces,’’ sebut Intan. ‘’Segmen pasarnya kalangan menengah ke bawah,’’ imbuhnya.
Kini, produk kerajinan tasbih digital hias buatan Intan telah merambah berbagai. Mulai Jakarta, Bali, Sumatera, Kalimantan, Aceh, hingga Papua. ‘’Sehari rata-rata bikin lima pieces,’’ ujarnya. (mg4/isd) Editor : Hengky Ristanto