--------------
DENGAN tenaga maksimal, Endang Lestari terus mengaduk adonan warna cokelat susu di wajan berukuran jumbo itu. Isinya campuran ketan, santan, dan gula merah. Sambil sesekali menyeka keringatnya, perempuan tersebut terus mengaduk adonan itu hingga mengental dan kenyal.
Setelah itu, adonan didiamkan sejenak hingga hangat. Kemudian, dipindah ke loyang atau mika. ‘’Kalau sudah dingin sulit dikemasnya,’’ kata warga Desa Tempursari, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, itu seputar jenang ketan olahannya.
Usaha jenang ketan yang ditekuni Endang diwarisi dari Sumini ibunya yang dirintis sejak 1990 silam. Kala itu, sang ibu memproduksi jenang karena tuntutan ekonomi keluarga. ‘’Karena sedari kecil sering lihat ibu bikin jenang, jadi tahu betul cara membuatnya,’’ ungkap Endang.
Sejatinya proses pembuatan jenang ketan kini bisa dilakukan dengan peranti modern. Namun, Endang memilih tetap menggunakan cara tradisional. Termasuk pemanasan dengan tungku kayu bakar maupun packaging. ‘’Resepnya juga dari dulu tidak berubah,’’ ungkap perempuan 34 tahun itu.
Saat permintaan ramai, Endang bisa menghasilkan sekitar 8 kilogram jenang sehari atau 50-an kemasan mika. Sementara, selain wilayah Madiun Raya, penjualan jenangnya sudah berambah luar pulau seperti Bali, Sumatera, dan Papua.
‘’Pernah juga dapat pesanan dari Hong Kong,’’ ujarnya sembari menyebutkan dirinya juga memproduksi madumongso, jadah, dan wajik. (mg3/isd) Editor : Hengky Ristanto