--------------
TANGAN Suryadi tampak luwes menjahit serabut warna kehitaman di sebuah tongkat rotan dengan panjang sekitar 1 meter. Dengan jarum goni, lilitan ijuk itu dikaitkan ke bagian satu dan bagian lainnya hingga membentuk kerucut pipih. ‘’Ada juga yang tidak dijahit seperti yang ada wadah plastiknya itu,’’ ujar Suryadi.
Suryadi menekuni kerajinan sapu ijuk meneruskan usaha mendiang ibunya, Samirah. Apalagi, sang ibu sebelum meninggal sempat berpesan padanya agar melanjutkan usaha turun temurun sejak 1970-an tersebut.
‘’Dulu di desa ini ada sekitar 20 perajin sapu ijuk. Sekarang tinggal tujuh yang masih bertahan. Itupun tak banyak yang dipegang anak muda. Sayang juga, sih,’’ sebut warga Desa Banjarsari Kulon, Dagangan, itu.
Meski produk sejenis yang lebih modern kini menjamur di pasaran, sapu ijuk made in Banjarsari Kulon masih diminati. Terbukti, dalam seminggu Suryadi rutin memproduksi sedikitnya 100 sapu ijuk. ‘’Bikinnya dibantu istri dan seorang tetangga,’’ ungkapnya.
Selain model tradisional, Suryadi juga membuat sapu ijuk kekinian dengan gagang dan wadah ijuk dari plastik. Pun, dia memproduksi sapu dari bahan rumput kering. Harganya dibanderol kisaran Rp 15.000 per biji.
‘’Banyak juga pabrik, sekolah, dan instansi yang beli borongan,’’ tuturnya. ‘’Pembeli dari beberapa daerah di Madiun Raya,’’ imbuhnya. (mg3/isd) Editor : Hengky Ristanto