----------
PENAMPILANNYA sederhana. Gaya bicaranya pun lembut. Sepintas, orang melihat Agus Susanto sebagai sosok biasa-biasa saja. Namun, siapa sangka, pria 38 tahun itu merupakan lulusan S3 salah satu universitas bergengsi di Jepang.
Ya, Agus menempuh pendidikan S3-nya di Universitas Hiroshima, Jepang, melalui jalur beasiswa. Tepatnya monbukagakusho. Yakni, beasiswa yang diberikan pemerintah Jepang melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.
Sukses Agus lolos beasiswa tersebut tidak terlepas dari otaknya yang encer. Sejak SD dia dikenal sebagai siswa pandai hingga kerap masuk ranking atas di sekolah. ‘’Waktu SD saya lulusan terbaik se-daerah saya. Kemudian, saat SMP peringkat 3 terbaik,’’ ungkapnya.
Berkat kepintarannya pula Agus selalu mendapat beasiswa selema menempuh pendidikan tinggi. Mulai S1 di Universitas Negeri Malang, S2 di Institusi Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), dan S3 di Jepang.
Meski begitu, kemampuan Agus di bidang bahasa asing tidaklah istimewa. Karena itu, sebelum menempuh pendidikan S3 di Jepang dia sengaja mengikuti kursus bahasa Inggris di Pare, Kediri. ‘’Sebenarnya saya lolos beasiswa di Jepang dan Taiwan. Tapi, akhirnya saya pilih yang Jepang,’’ tutur dosen perkeretaapian Politeknik Negeri Madiun itu.
Yang menarik, selama di Negeri Sakura Agus biasa pergi ke kampus dengan naik sepeda ontel. Kesederhanaan itu pula yang membuat salah seorang dosen di sana yang terkesan. Sang dosen lantas mendaftarkan Agus mewakili kampusnya mengikuti seleksi Young Research Award.
‘’Alhamdulillah, akhirnya dapat penghargaan dari JSPE (Japan Society for Precision Engineering, Red),’’ ungkapnya.
Di sisi lain, sebagai dosen Agus memiliki metode mengajar sedikit berbeda dengan dosen lainnya. Saat mahasiswanya konsultasi tugas akhir, dia biasa menanyakan keseriusannya mengikuti bimbingan. ‘’Saya selalu tanya apakah kamu menyesal berada di bawah bimbingan saya?’’ ucapnya. (mg4/isd) Editor : Hengky Ristanto