----------
EKSPRESI Muhammad Surawi dan beberapa rekannya tampak santai meski sedang berdekatan dengan ular. Bahkan, tubuh jenis reptil itu sesekali dielus-elus. Pun, tak tebersit sedikitpun rasa takut di wajah mereka saat si ular bergelayut di leher dengan lidah menjulur-julur.
Surawi dkk memang akrab dengan reptil seperti ular dan biawak. Mereka bersatu di komunitas bernama Bolo Reptil Madiun (Brem). ‘’Terbentuk pada 2015 lalu. Awalnya, anggotanya cuma lima orang,’’ ungkapnya.
Sejak itu pula Surawi dkk getol mengenalkan komunitasnya ke masyarakat umum dengan cara kumpul bareng di lokasi keramaian dua pekan sekali. Setiap kali berkumpul, mereka tidak lupa membawa reptil koleksinya. ‘’Lambat laun anggotanya bertambah. Saat ini ada 50-an orang,’’ sebutnya.
Tidak sekadar kumpul bareng, anggota Brem juga aktif mengedukasi masyarakat seputar reptil. Termasuk mengajak mereka menjaga populasinya demi keseimbangan ekosistem. ‘’Ular dan sejenisnya itu sangat membantu petani karena predator alami tikus dan hama padi lainnya,’’ ujar Surawi.
Anggota Brem juga kerap terlibat dalam aksi evakuasi ular yang masuk permukiman warga. Jika itu terjadi, ular yang diamankan biasanya dirawat terlebih dulu sekitar dua pekan. Kemudian, dilepas di alam bebas. ‘’Dua minggu terakhir ini sudah lebih dari 10 ular berbagai jenis dan ukuran yang telah kami evakuasi,’’ kata Surawi. (mg4/isd) Editor : Hengky Ristanto