Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Bukan Sembarang Polo Pendem, Satu Pohon Uwi Sutejo Seberat Setengah Kuintal

Hengky Ristanto • Jumat, 2 Juni 2023 | 12:00 WIB
UWI MANALAGI: Sutejo bersama anak-anak asuhnya saat panen Uwi yang ditanam sepuluh bulan lalu di kebunnya Perumahan Tajug, Siman. (ISTIMEWA)
UWI MANALAGI: Sutejo bersama anak-anak asuhnya saat panen Uwi yang ditanam sepuluh bulan lalu di kebunnya Perumahan Tajug, Siman. (ISTIMEWA)
Di tangan ahlinya, apapun menjadi istimewa. Sudah tak terhitung kata-kata yang digunakan Sutejo menghasilkan deretan buku dan karya sastra. Bahkan tumbuhan yang disemai Sutejo pun mampu berbuah di atas normal.

------------------------------------------------------------

KERINGAT menetes di kening Sutejo siang itu. Bersama anak-anak asuhnya, dia tak ingin menyerah mengangkat Uwi, hasil berkebunnya sekitar sepuluh bulan lalu. Tumbuhan yang masuk dalam deretan polo pendem itu tumbuh kelewat subur. Umbinya tampak bergerombol dengan ukuran jumbo. Tanah di sekeliling tanaman umbi itu sudah tergali sedari pagi. Namun hingga menjelang siang, uwi juga belum terangkat.

Sutejo bergegas mengambil kayu bekas atap rumah. Kemudian mengikatkan umbi ke kayu itu dengan tali tambang. Anak-anak asuhnya meletakkan ujung kayu ke pundak mereka masing-masing. Alhasil, umbi tercerabut dan berhasil diangkat. Perlahan, umbi itu diletakkan di atas timbangan. Bobotnya, nyaris menyentuh angka 50 kilogram. Sutejo dan anak-anak asuhnya menghela nafas panjang. Masih ada deretan tanaman Uwi yang belum terangkat umbinya.

Ya, Sutejo yang dikenal praktisi pendidikan, budayawan, dan juga sastrawan itu mulai berkebun untuk mengisi waktu luang sejak pandemi Covid-19 lalu. Jarak kebunnya hanya selemparan batu dari rumahnya di Perumahan Tajug, Siman, Ponorogo. Awalnya, Sutejo menanam ketela di kebun yang juga digunakan untuk perpustakaan pribadinya itu. Machrus, seorang kawan dari Desa/Kecamatan Sooko datang ke kebunnya membawa dua bibit Uwi. Sutejo menanam bibit tersebut di dekat deretan pohon ketela. ‘’Awalnya menanam ketela ketan, subur sekali,’’ kata Sutejo.

Sepuluh bulan berselang, Sutejo mulai panen di kebunnya. Dia terkejut bukan kepalang, dari dua benih Uwi yang ditanamnya menghasilkan umbi masing-masing hampir 50 kilogram. Machrus, kawannya tak kalah terkejutnya. Pasalnya, bibit yang dia bawa menghasilkan umbi normal maksimal 20 kilogram di kebun tempat tinggalnya. Pun berbeda dengan Uwi normalnya, rasa umbi dari hasil di kebun Sutejo manis dan gurih. ‘’Uwi manalagi, nggak tahu kok bisa hasilnya besarnya segini, rasanya manis dan gurih lagi,’’ kelakarnya.

Pakar Literasi Kemendikbudristek itu mulai menanam kembali umbi hasil panen Uwi di kebunnya tahun lalu. Tidak sekedar menaburkan bibit, Sutejo mulai menanam dengan menggali tanah sedalam setengah meter. Kemudian menggunakan media tanam kompos berupa sampah daun-daunan, pelepah pisang di lapisan dasar. Kemudian di atasnya diberi jerami, barulah pupuk kotoran hewan (kohe). Dengan media tanam itu, umbi siap ditanam. ‘’Media tanam ini terinspirasi ayah saya (Almarhum Sansaimun) yang juga suka menanam di pekarangan sebelah rumah,’’ ujarnya.

Sutejo turut menancapkan batang kayu untuk tempat merambat tanaman uwi. Dia berbagai tips agar Uwi menghasilkan umbi di atas rata-rata. Kuncinya, rajin menyirami setiap hari. Pun setiap kali merawat tumbuhan di kebunnya, Sutejo tak lupa melafalkan shalawat dan dzikir. Dia yakin, tumbuhan juga perlu mendapatkan sentuhan doa dan cinta kasih. Sebab tumbuhan sama halnya manusia dan makhluk hidup lainnya.  ‘’Hasil panen tidak dijual, dimakan sendiri dibagi ke tetangga, teman, dan kerabat,’’ ucapnya. *** (gen/kid) Editor : Hengky Ristanto
#tips merawan umbi #uwi sutejo #umbi raksasa ponorogo #uwi manalagi #budayawan sutejo