Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Wisata Unik, Nikmati Gamelan Kaca Sambil Santap Jajanan Ndeso di Pasar Beling

Hengky Ristanto • Sabtu, 3 Juni 2023 | 01:00 WIB
BERPRESTASI: Rahma Ayu Zabina menunjukkan medali dan piagam koleksinya. (RAHMA DWI LESTARI/JAWA POS RADAR MADIUN)
BERPRESTASI: Rahma Ayu Zabina menunjukkan medali dan piagam koleksinya. (RAHMA DWI LESTARI/JAWA POS RADAR MADIUN)
Pasar di komplek Sanggar Seni Song Meri ini tidak hanya menyajikan anekan makanan tradisional. Namun juga punya keunikan tersendiri hingga layak jadi pilihan untuk sekadar bersantai.

----------

PASAR Beling, namanya unik. Seperti sebutannya, transaksi di pasar ini menggunakan koin berbahan pecahan kaca. Tentu saja, nilainya sesuai nominal rupiah yang ditukarkan. Ada dua koin pecahan bernilai Rp 5.000 dan Rp 10.000.

Pasar khusus kuliner tradisional ini ada di komplek Sanggar Seni Song Meri. Tepatnya, di Desa Sukoharjo, Pacitan, sekitar dua  kilometer ke arah timur dari Pacitan kota.

Pengunjung yang datang untuk menikmati kuliner tradisional bisa mendatangi loket pintu masuk untuk menukar rupiah dengan beling. Petugas pun akan menyambut dengan ramah. Salah seorang di antaranya Dina Wardhiana

Minggu (28/5), perempuan petugas loket berbusana batik biru dan berjilbab kuning itu menyapa setiap pengunjung yang datang. Pun dengan sabar menjelaskan tata cara berbelanja di Pasar Beling. Bambang Setyo Utomo, salah seorang pengunjung dari Desa Mentoro, misalnya.

Usai memarkir motornya di samping pintu masuk, lantas menghampiri loket yang dijaga Dina. Dia menukarkan uang Rp 15 ribu. Lantas menuju deretan kios makanan. Lontong pecel dan dawet dipesannya. Dalam hitungan menit menu sudah tersaji. ‘’Sudah lama pingin sarapan di sini. Baru kesampaian sekarang,’’ katanya.

Di depan deretan warung terdapat pelataran. Di tengahnya puluhan meja dari potongan kayu dipasang permanen. Begitu pula kursi papan kayu ditata ala kadarnya. Setengah jam sebelumnya, tempat itu dipenuhi anggota komunitas gowes. ‘’Pasar Beling memang kerap jadi jujukan warga yang ingin bersantai sembari menikmati jajanan ndesa.’’ tambah Bambang.

Pria berkacamata yang juga guru SMP itu memilih tempat berbeda untuk menyantap lontong pecelnya. Di depan panggung sebelah timur. Panggung itu menjadi tempat pentas musik gamelan. Uniknya lagi, semua jenis instrumen tradisional Jawa itu berbahan kaca. ‘’Kurang nikmat apa coba. Sarapan sambil nglaras gending,’’  tuturnya sembari sesekali bertepuk tangan mengikuti irama tembang Caping Gunung.

Amin Sastro Diharjo, adalah seniman sekaligus pemrakarsa Pasar Beling. Dia menyebutkan, gagasan itu muncul seiring pembuatan gamelan kaca. Saat itu banyak pecahan kaca tak terpakai. Beberapa pegiat seni dan tokoh masyarakat pun berdiskusi untuk memanfaatkannya.

Mereka pun sepakat membuatnya jadi koin untuk alat pembayaran khusus di Pasar Beling. ‘’Ada sisa-sisa (kaca) yang berbentuk koin. Jadi dari situ kami sepakati dibuat alat pembayaran. Pasarnya kita namai Pasar Beling,’’ tuturnya.

Di balik konsep sederhana itu, Pasar Beling begitu diminati pengunjung. Apalagi tak hanya menyuguhkan aneka jajanan tradisional, namun juga musik gamelan. Sayang, Pasar Beling hanya buka selapan (35 hari kalender Jawa) sekali. Tepatnya setiap Ahad Wage.

Sehingga, pengunjung harus bersabar untuk dapat menikmati sensasi sarapan diiringi gamelan. ‘’Karena harus menunggu selapan itu juga yang membuat pengunjung penasaran untuk datang,’’ ungkap Amin sembari tersenyum. (hyo/sat) Editor : Hengky Ristanto
#pasar beling pacitan #wisata unik pacitan #gamelan kaca #Sanggar Seni Song Meri #jajanan tradisional