---------------------------------------------------
KETIKA matahari beranjak ke peraduan. Lapangan Desa Sekar, Donorojo, semakin ramai. Dua kelompok orang berbaju serbahitam berjajar rapi di dua sisi lapangan. Tak berselang lama, suara teriakan menggema. Suasana petang itu kian menghangat. Itu pertanda ‘perang’ telah dimulai.
Benar saja, kedua kelompok tersebut langsung saling lempar ratusan cengkir. Yakni, bakal buah kelapa yang telah dikuliti dan direndam beberapa hari hingga lunak. Dari sebuah keranjang bambu cengkir-cengkir itu dilemparkan kedua kelompok ke arah ingkung (ayam panggang utuh). Hingga, amunisi ‘perang’ itu ludes.
Itulah prosesi upacara adat ceprotan yang rutin digelar warga setempat setiap Senin Kliwon, bulan Longkang atau Sela (kalender Jawa). ‘’Ini wujud rasa syukur atas kemakmuran desa kami. Ayam sebagai lambang kemakmuran,’’ ujar Kepala Desa (Kades) Sekar Miswandi Senin (29/5) lalu.
Tradisi ini merupakan kegiatan bersih desa setempat untuk mengenang kisah asmara Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun, pendahulu yang diyakini berperan atas terbentuknya Desa Sekar. Kisah itu bermula dari pengembaraan Ki Godek dan Dewi Sekartaji.
Konon, dahulu kala, wilayah Pacitan merupakan hutan belantara. Datanglah seorang pengembara tua bernama Ki Godek. Dia lantas babat alas untuk membuka lahan. Dia bermaksud mendirikan peradaban, rumah tinggal, serta lahan pertanian.
‘’Filosofi ceprotan itu adalah terbentunya Desa Sekar. Dari kisah Dewi Sekartaji dan Ki Godek, sumber air di desa ini melimpah hingga saat Ini,’’ terangnya.
Di tengah perjalanan Dewi Sekartaji bertemu Ki Godek. Dewi Sekartaji yang tengah haus minta Ki Godek mencarikan air kelapa muda untuk diminum. Permintaan itu pun dipeunhi. Namun, Dewi Sekartaji tidak menghabiskannya. Dia malah menuangkan sisa air kelapa muda ke tanah hinga menjadi sumber air yang melimpah. Kala itu, Dewi Sekartaji sedang berkelana mencari kekasihnya Panji Asmorobangun. Dia mampir di Desa Sekar karena kelelahan.
Adat ceprotan, sebut dia, juga menuntun semua orang untuk berusaha mencapai tujuan hidup. Saling tolong menolong diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Doa yang merupakan pengharapan pada Sang Pencipta juga sangat penting dalam menggapai cita-cita. Sedangkan, ingkung melambangkan setiap usaha pasti ada hasilnya.
‘’Ceptrotan wujud jati diri Desa Sekar atau mamayu lestarining budaya (melestarikan budaya),’’ sebutnya.
Di luar tradisi itu, Bupati Pacitan Indrata Nurbayu Aji menyebutkan, ceprotan mampu mengangkat perekonomian masyarakat. Tidak sedikit pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mendulang rupiah dari event tersebut. Apalagi juga digelar pentas budaya selama tiga hari berturut-turut.
‘’Saya sangat mengapresiasi atas istiqamah pemerintah desa dan masyarakat,’’ tutur bupati.*** (sat)
Editor : Hengky Ristanto