----------
TANAMAN air itu tampak tumbuh subur di kolam milik Astutik. Bukan tumbuh liar. Melainkan sengaja dibudidayakan perempuan itu untuk campuran pakan ternak. Mulai ikan gurame dan nila hingga ayam petelur dan yang kampung unggulan balitbangtan (KUB). ‘’Tanaman ini namanya azolla. Alternatif pengganti pakan pabrikan,’’ ujar Astutik.
Bagi Astutik, pemanfaatan azolla untuk pakan ternak cukup menghemat pengeluaran. Pasalnya, harga konsentrat buatan pabrik makin hari semakin menggila. ‘’Biasanya saya campur dengan limbah tepung ayam goreng krispi, pur, dan bekatul,’’ ungkap warga Desa Sumberejo, Kecamatan/Kabupaten Madiun, itu.
Tak hanya itu, kotoran ternak ayamnya kini tidak terlalu berbau tak sedap. Namun, tidak memengaruhi kualitas daging maupun telur yang dihasilkan, Bahkan, rasanya lebih gurih dibanding menggunakan pakan ternak pabrikan. ‘’Proteinnya juga sangat tinggi,’’ sebutnya.
Meski belum genap setahun menekuni budi daya ayam petelur dan KUB, Astutik sudah merasakan manisnya usah atersebut. Dari modal awal 100 doc ayam KUB, kini berkembang menjadi sekitar 60 ayam indukan terdiri 30 petelur dan 30 KUB. ‘’Sehari bisa panen telur setengah sampai 1 kilogram,’’ katanya.
Sementara, untuk ayam doc KUB Astutik membanderol Rp 10 ribu per ekor. ‘’Pemasarannya pakai media sosial,’’ tuturnya. ‘’Yang jelas, keuntungan lumayan,’’ imbuhnya. (mg3/isd) Editor : Hengky Ristanto