Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Semula Terpaksa, Dosen Perempuan di Pacitan Sukses Beternak Domba

Hengky Ristanto • Sabtu, 17 Juni 2023 | 03:00 WIB
TELATEN: Diana Rendrarini sedang memeriksa domba ternaknya yang mencapai 100 ekor. (NUR CAHYONO/RADAR PACITAN)
TELATEN: Diana Rendrarini sedang memeriksa domba ternaknya yang mencapai 100 ekor. (NUR CAHYONO/RADAR PACITAN)
Beternak kambing atau domba umumnya digeluti kaum pria. Namun, ada seorang perempuan di Pacitan yang tak canggung “bergumul” dengan hewan yang dikesankan berbau tak sedap ini.

----------

PEREMPUAN warga Lingkungan Jaten, Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, ini memelihara 100 ekor domba. Omzet belasan juta rupiah dalam sebulan pun tak sulit dikantongi dari beternak dan jual-beli domba tersebut. Adalah Diana Rendrarini, peternak perempuan tersebut.

Sebanyak 100 ekor domba berbagai jenis dipelihara. Dari usia baru lahir hingga indukan dan pejantan. Masing-masing dipisahkan dalam lima kandang berbeda.  Mulai jenis awassi F2 dari Suriah, merino dari Spanyol, serta lokal sopas dan texel dari dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. ‘’Ada empat jenis domba yang saya piara,’’ tuturnya.

Perempuan 50 tahun itu menggeluti profesinya ini sejak 2017 silam. Dia dibantu seorang karyawan untuk mengurus ratusan ekor kambingnya. Mulai merumput, membuat pakan fermentasi hingga membersihkan kandang.

‘’Domba sebanyak ini cukup di-handle seorang karyawan, karena pakannya fermentasi,’’ ungkapnya.

Ternyata, Diana juga bukan perempuan yang sehari-hari di rumah saja. Dia adalah dosen teknik sipil salah satu perguruan tinggi di Madiun. Kendati begitu, dia tetap meluangkan waktu untuk merawat, seperti mencukur sendiri domba-dombanya.

Semua itu bermula ketika kambing yang dia titipkan kepada peternak berkembang biak dan dikembalikan kepadanya. “Terpaksa” dia pun mengurusnya sendiri dengan membuat kandang di lahan kosong miliknya. Siapa tahu, ternyata malah mengahsilkan cuan.

Dia pun terus belajar. Melihat domba jenis awassi dan merino yang cepat pertumbuhannya, dia akhirnya menjual kambingnya dan beralih berternak domba. ‘’Karena domba lebih tahan penyakit,’’ bebernya.

Dalam sehari, dia hanya butuh sekitar 10 kilogram pakan fermentasi. Pakan tersebut terbuat dari rumput,  jagung, kulit kopi,  kedelai dan konsentrat yang dicampur dengan formulasi tertentu. ‘’Jadi tidak perlu ngarit,’’ ujarnya.

Dalam satu sampai dua bulan, rata-rata Diana bisa menjual 10 ekor domba. Pun, tak lagi kesulitan memasarkan. Pasalnya banyak peternak lokal yang memesan untuk dipelihara. ‘’Penjualan berdasarkan bobotnya. Perkilogram Rp 60 ribu rupiah. Per ekor rata-rata 25 hingga 30 kilogram,’’ jelasnya. (hyo/sat) Editor : Hengky Ristanto
#ekonomi kreatif pacitan #peternakan pacitan #peternakan domba pacitan