Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Gokil! Pemuda Berusia 17 Tahun asal Kota Pendekar Tekuni Kerajinan Miniatur Perahu Pinisi

Mizan Ahsani • Rabu, 28 Juni 2023 | 02:00 WIB
KREATIF: Albert Wilis Tri Saktiawan menunjukkan miniatur kapal pinisi karyanya. (ALBERT WILIS TRI UNTUK RADAR MADIUN)
KREATIF: Albert Wilis Tri Saktiawan menunjukkan miniatur kapal pinisi karyanya. (ALBERT WILIS TRI UNTUK RADAR MADIUN)

Albert Wilis Tri Saktiawan termasuk remaja kreatif. Di usianya 17 tahun, dia mampu mengolah bambu menjadi kerajinan tangan berupa kapal pinisi.

----------

TIGA miniatur kapal pinisi terjajar di rumah Albert kemarin (26/6). Semua itu merupakan karya tangan remaja asal Jalan Kaswari, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo tersebut. Sementara si pemuda asli Kota Pendekar itu sedang sibuk mengerjakan miniatur kapal anyar saat wartawan koran ini datang.

Sejak dari kecil Albert sudah akrab dengan seni kriya kayu. Dia mengaku terinspirasi dari ayahnya yang juga seorang seniman. Namun, dia baru mulai serius menekuninya akhir tahun lalu. Berawal ketika Albert mendapati potongan bambu berserakan di teras rumah.

‘’Saat itu saya cuma sekadar iseng untuk memanfaatkan potongan bambu itu menjadi sebuah kerajinan. Nah, kebetulan saya kepikiran untuk membuat kapal,’’ kata warga Kota Pendekar tersebut.

Untuk membuat miniatur kapal pinisi, Albert memerlukan potongan bambu ukuran 30–50 sentimeter. Bambu-bambu tersebut kemudian disesuaikan bentuknya dengan jenis perahu pinisi yang hendak dibuat. ‘’Dibutuhkan waktu sekitar 5 hari untuk membuat satu kapal,’’ ungkapnya.

Albert biasa mengerjakan miniatur kapal pinisi itu saat lengang sepulang sekolah. Pun, tergantung mood dirinya saat ketika itu. Sehingga, tak jarang pesanan yang masuk ditolaknya. ‘’Kalau ada yang beli, saya tawarkan display yang ada dulu,’’ ujarnya.

Karena baru sebatas penjajakan, Albert belum terlalu melebarkan sayap pemasarannya. Selama ini karyanya yang sudah terjual hanya berkat omongan dari mulut ke mulut. ‘’Harganya tergantung tingkat kerumitan dan besar kecilnya kapal itu. Rata-rata sekitar Rp 250–350 ribu,’’ katanya.

Ke depan, dia berencana untuk meningkatkan keterampilannya. Seperti membuat miniatur kereta uap. Sejauh ini, Albert baru sebatas riset. ‘’Karena ini bahan dasarnya juga bambu, cocoknya dengan transportasi jaman dulu,’’ pungkasnya. (mg4/her)

Editor : Mizan Ahsani
#miniatur #bambu #Kota Pendekar #kerajinan