Seje desa mawa cara. Lain desa lain pula adat istiadatnya. Desa Mantren, Kebonagung, punya tradisi Tetaken untuk mengenang jasa leluhur. Khususnya mereka yang telah babat alas dan membuka desa setempat.
-----------
KENTONGAN dibunyikan. Para pertapa pun disambut iring-iringan warga memasuki area upacara. Umumnya para petani yang mengenakan busana adat Jawa. Mereka membawa berbagai hasil bumi. Pun, ubarampe ritual lainnya. Seperti tumpeng dan ingkung. Beberapa di antarnya membawa bumbung (wadah dari bambu) berisi legen atau nira pohon aren.
Upacara adat Tetaken ini adalah ritual sedekah bumi yang dilaksanakan masyarakat lereng Gunung Limo, Mantren, Kebonagung. Upacara adat ini dilaksanakan setiap tanggal 15 Muharam (kalender Islam) dan tetap lestari diwarisi secara turun temurun hingga kini.
Para pembawa legen bergiliran menuangkan isi bumbungnya ke dalam gentong. Setelah semua penunjang ritual di tempat acara, upacara inti dimulai. Yakni, memberi tanda kelulusan kepada para pertapa. Satu per satu mereka diberi minum legen. Selanjutnya, menghadapi tes mental berupa penguasaan ilmu bela diri. Hingga terkadang mendapat cambukan.
Tetaken berasal dari kata tetekian (teteki: bahasa Sansekerta) yang berarti pertapaan. Upacara adat ini untuk mengenang sejarah Desa Mantren dan leluhur mereka yang babat alas membuka lahan. Yakni, Kyai Tunggul Wulung.
Setelah bertapa di Gunung Limo, tokoh ini membuka lahan di lereng gunung yang kini menjadi Desa Mantren dan menyebarkan Islam ke seluruh Pacitan.
Mantren berasal dari kata mantri atau punggawa kerajaan. Ini merujuk pada latar belakang Kyai Tunggul Wulung yang merupakan pejabat keraton yang mendapat amanah babat alas. ‘’Tradisi Tetaken ini ada unsur kegotongroyongan, silaturahim serta sedekah,’’ kata Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, kepada Jawa Pos Radar Madiun.
Tetaken menjadi agenda tahunan desa setempat sejak pertama kali dgelar pada 2006. Bukan hanya masyarakat desa setempat, namun masyakat dari luar desa hingga luar daerah juga datang menyaksikan. ‘’Harapannya berdampak baik pada perekonomian masyarakat,’’ tutur Mas Aji, sapaan bupati. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani