Bulan Suro disambut sukacita masyarakat Kelurahan Nambangan Lor dengan menggelar bersih desa. Bersih Desa Nambangan Lor ini sakral berkat ritual kirab, larungan, pelepasan tujuh ekor bebek sebagai bentuk pitulungan.
-----------------
IRINGAN kidung Jawa mengawali tradisi bersih desa di kantor Kelurahan Nambangan Lor kemarin (18/8) siang. Didukung penampilan reog serta tokoh adat setempat yang mengenakan penadon. Mereka kemudian berjalan menuju ke Kali Madiun sambil memikul tumpeng dan menenteng tujuh ekor bebek.
Sesampainya di pinggir sungai, tumpeng lantas dinaikkan di atas kapal lalu dilarung. Ucapan doa terlontar mengiringi prosesi larungan tersebut. Tepat saat itu, seluruh bebek ikut dilepaskan di kedung. Mulai dari Jembatan Branjangan hingga Sonokeling.
Semua masyarakat berdoa agar dijauhkan dari bencana. Doa keselamatan pun dipanjatkan kepada Pencipta.
Ketua Panitia Bersih Desa Hariyana mengatakan, tradisi bersih desa ini telah berlangsung sejak 1960-an. Sebelum prosesi larungan, warga setempat terlebih dahulu melakukan ziarah ke makam Ki Ageng Budug.
Tujuannya agar selalu mengingat akan sejarah daerah setempat. ‘’Kalau orang umum menyebut, rangkaian adat ini terdiri dari malam midodaren, akad nikah dan resepsi,’’ katanya.
Pada malam midodaren itu warga setempat menggelar pengajian umum di kantor kelurahan. Kemudian dilanjutkan sedekah bumi dan tilik kampung. ‘’Di antara itu ada wungon. Kegiatan bedah budaya.
Dalam arti tata budaya nasional maupun adat dan tradisi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat,’’ terangnya.
Sedangkan makna dibalik tilik kampung berarti mageri desa. Jadi, tokoh masyarakat setempat berkeliling Nambangan Lor ketika tengah malam. Setelah itu, paginya melakukan nyadran. ‘’Tradisi ini digelar sebagai bentuk nguri-uri alias melestarikan budaya,’’ ujar Hariyana. (ggi/her)
Editor : Mizan Ahsani