Kecintaan Rahmadian Lestari Arbianita terhadap kucing tidak main-main. Sampai tempat tinggalnya di Jalan Jaya dijadikan selter untuk menampung kucing yang sakit maupun tak terurus.
----------
KUCING-kucing itu berlarian sembari bermain satu sama lain. Ada juga yang mengengong-ngeong manja. Ada juga yang nangkring di depan pintu sambil menjilati tubuhnya. Pemandangan itu membuat mata tak jemu melihatnya.
Tingkah-tingkah hewan mamalia tersebut terdapat di rumah Rahmadian Lestari Arbianita yang juga merupakan Posyandu Kucing. Letaknya di Jalan Jaya, Kelurahan Klegen, Kartoharjo. Saat ditemui kemarin (12/9) sore, perempuan 51 tahun itu selesai bersih-bersih rumah.
Dian merupakan cat rescuer. Pengalaman tersebut sudah dilakoninya sejak 2016 lalu. Bermula ketika dirinya merasa iba melihat dua ekor kucing yang selalu menghampiri rumahnya setiap hari untuk minta makan. Kucing ras kampung itu lantas dipelihara. Karena memang tak ada orang yang mengakuinya sebagai pemilik. ‘’Salah satu kucing itu saya namai Si Manis,’’ ungkapnya.
Sudah tujuh tahun terakhir ini, Si manis tinggal bersamanya. Selama itu, Si Manis pernah melahirkan dua anakan. Tapi, kedua kucing tersebut mati. Penyebabnya, karena terinfeksi panleu survivor yang membuat matanya menjadi rabun.
‘’Sebenarnya, Si Manis masih bisa melihat ketika telunjuk kita arahkan ke atas-bawah. Tapi, kalau telunjuk kita arahkan ke kanan-kiri itu tidak bisa,’’ terang Dian.
Saat ini, kondisi kucing yang kali pertama diselamatkannya itu tidak lagi seaktif dulu. Nenek –panggilan lain Si Manis– lebih banyak diam di dalam kandang.
Selain Si Manis, Dian sudah menyelamatkan 30 ekor kucing sejak 2016. ‘’Sebenarnya rescue itu bukan tempat pembuangan kucing. Tapi, tolong bagi yang mempunyai kucing dijaga baik-baik. Jangan seperti kucing terkena penyakit langsung dibuang,’’ tuturnya.
Baginya banyak suka duka menjadi cat rescuer. Misalnya, kucing yang selalu beranak pinak. Kondisi itu membuatnya harus bekerja ekstra dalam melakukan perawatan. Soal biaya, Dian menghimpunnya secara mandiri. Disisihkannya gaji yang didapat dari pekerjaannya sebagai seorang tenaga IT.
Dalam merawat kucing-kucing yang diselamatkannya itu, Dian biasa meminta bantuan kepada drh Syaiful. Dia pulalah yang menyarankan dirinya untuk mendirikan Posyandu Kucing. ‘’Posyandu Kucing ini terbuka untuk umum. Sedangkan, biayanya diwujudkan dalam bentuk arisan per bulan. Dan, hasilnya untuk meringankan biaya (vaksinasi) sterilisasi kucing,’’ beber alumnus Unair itu.
Selama pengoperasian Posyandu Kucing, Dian tidak hanya bekerja sendiri. Tapi, dia juga dibantu beberapa tetangganya yang sesama pecinta kucing. ‘’Saya kadang juga merasa miris ketika sudah lama merawat tapi kucing saya justru mati diracuni oleh seseorang tidak dikenal,’’ pungkasnya. (mg1/her)
Editor : Mizan Ahsani