Jawa Pos Radar Madiun – Sosok Agasta Riksa kini semakin bersinar di dunia modeling.
Perempuan asal Desa Kepolorejo, Magetan, ini lebih banyak terlibat dalam dunia photoshoot dan kampanye digital, khususnya untuk brand fashion dan kecantikan.
Namun, meski sering tampil di runway, Agasta mengaku sangat selektif dalam memilih pekerjaan.
"Kadang ikut runway juga, tapi selektif. Karena harus membagi waktu dengan kerjaan lain dan konten pribadi yang lagi aku kembangkan," ujar Agasta, Sabtu (26/4).
Kecintaannya terhadap dunia modeling sudah tumbuh sejak kecil. Agasta mengungkapkan bahwa sejak kecil, dia sudah suka bergaya di depan cermin dan berpose di kamera keluarga.
Namun, baru saat duduk di bangku SMA, Agasta serius menekuni modeling dan mulai mendapatkan tawaran pekerjaan.
"Modeling itu bukan sekadar soal wajah cantik, tetapi lebih tentang bagaimana mengekspresikan diri lewat ekspresi, gesture, dan style," katanya.
Gadis 23 tahun ini menuturkan bahwa dunia modeling memberinya banyak pengalaman berharga.
Selain bertemu banyak orang baru dan mengeksplorasi konsep-konsep seru, dunia modeling juga membantu Agasta melatih rasa percaya dirinya.
Namun, tidak sedikit tantangan yang harus dihadapinya. "Kadang lelah, mood naik-turun, tapi tetap harus tampil prima. Tapi aku enjoy, itu semua bagian dari proses," tambahnya.
Beragam pekerjaan di dunia modeling sudah dijalani Agasta. Mulai dari fashion shoot, video campaign, menjadi muse makeup, hingga brand ambassador dan bintang video klip.
Lokasi pekerjaannya pun fleksibel, bahkan sering membawanya ke luar kota.
Selain modeling, Agasta juga memiliki hobi traveling, berburu spot foto, mendengarkan musik, dan berbagi cerita dengan orang lain.
"Suka juga ungkapin isi kepala. Rasanya lega dan kadang bisa bantu orang lain lewat omongan sederhana," ujarnya.
Agasta juga menyampaikan pesan penting bagi sesama perempuan. Menurutnya, jangan takut jadi diri sendiri.
"Menjadi model itu bukan soal kesempurnaan, tapi soal kepercayaan diri dan konsistensi. Jangan takut beda, jangan takut mulai. Yang penting tahu mau ke mana, dan nyaman jadi diri sendiri. Berdasarkan pengalamanku, fake it till you slay it," pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto