Jawa Pos Radar Ponorogo – Deretan kerajinan tangan tertata rapi di rak-rak dinding rumah Siti Nurul Janah.
Aroma cat dan resin menyeruak dari ruang kerja di kediamannya di Kelurahan Tambak Bayan.
Dengan saksama, perempuan yang akrab disapa Acyd itu menggoreskan pena cat ke lembaran akrilik transparan.
Puluhan pesanan berjajar menunggu dikirim.
Empat tahun terakhir, Acyd menggeluti usaha hand lettering akrilik.
Semua berawal pada masa pandemi, Mei 2021.
Bermodal sisa lembaran akrilik dan pena cat khusus, dia iseng membuat tulisan dekoratif.
Karya pertamanya diposting di status WhatsApp dan langsung menarik perhatian.
‘’Awalnya cuma iseng, lalu ada yang pesan untuk kado. Dari situ mulai serius,’’ ujarnya.
Meski bukan lulusan sekolah seni, jebolan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari itu belajar semuanya secara otodidak.
Dari teknik menggambar di akrilik, meracik resin, hingga pemasaran digital.
Namun, langkah awalnya sempat diwarnai cibiran.
‘’Jualan kayak begini, siapa yang mau beli? Apalagi tinggal di desa,’’ kenangnya menirukan komentar miring.
Namun keraguan itu perlahan sirna. Pesanan terus berdatangan.
Awalnya lima pesanan seminggu, hingga akhirnya produknya menembus pasar luar negeri.
Seorang pembeli dari Turki menjadi titik baliknya.
Sejak itu, Acyd mulai memperluas pasar lewat toko daring.
‘’Pernah ada yang pesan 200 lebih, bahkan ada permintaan 400 pcs dari Bali, tapi saya tolak karena ini murni buatan tangan,’’ ungkapnya.
Kini, produknya telah dikirim ke Malaysia, Taiwan, dan beberapa negara lain.
Tak hanya fokus produksi, Acyd juga aktif mengajar.
Tahun lalu, dia membuka kelas kerajinan yang mengajarkan teknik hand lettering, meracik parfum, membuat produk resin, hingga chungky bag.
Baginya, ilmu tak hanya untuk disimpan.
‘’Kalau dulu saya bisa belajar sendiri, sekarang saatnya berbagi. Kalau ada yang meremehkan, tak apa. Rezeki sudah diatur Tuhan,’’ pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto