Jawa Pos Radar Madiun – Perjalanan panjang dilalui Luvena Chacha Agista hingga menjadi finalis Kakang Mbakyu Kota Madiun 2023.
Mahasiswi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun itu mengaku semuanya berawal dari niat sederhana: ingin berkembang dan menambah pengalaman.
“Awalnya saya gabung Pakandayu Kota Madiun waktu kelas XI di SMAN 1 Madiun,” kenang Luvena.
Saat Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) membuka pendaftaran Kakang Mbakyu, semangatnya langsung tumbuh.
“Saya ingin upgrade diri, belajar, dan menambah relasi,” imbuhnya.
Persaingan tidak mudah. Dari 260 peserta, hanya 20 yang lolos ke final.
Luvena harus melewati seleksi performa, bakat, wawancara, dan tes tulis.
“Sempat minder, tapi saya tetap berusaha percaya diri,” ujar warga Kelurahan Kelun, Kartoharjo, itu.
Dalam tes bakat, Luvena menampilkan kemampuan menyanyi sambil bermain piano membawakan lagu “Karena Ku Cinta Kau” milik Bunga Citra Lestari.
Tes wawancara dan tulis juga tak kalah menantang, mencakup wawasan kebangsaan, pariwisata, dan bahasa Inggris.
“Deg-degan banget waktu ditanya soal presiden pendiri negara lain,” katanya.
Ketika diminta membuat presentasi wisata, Luvena memilih TITD Hwie Ing Kiong di Jalan Cokroaminoto karena nilai sejarah dan wisata religinya belum banyak dikenal.
Pilihan itu mengantarnya ke babak 20 besar finalis.
Tahap karantina menjadi ujian terakhir.
Dua hari satu malam dengan waktu tidur hanya empat jam.
“Capek, tapi terbayar saat berdiri di panggung grand final,” ucap anak bungsu pasangan Heru Dwi Susanto dan Elisabeth Dokana itu.
Meski belum meraih gelar juara, Luvena bersyukur atas pengalaman tersebut.
Kini, di sela kuliahnya, ia aktif sebagai model catwalk dan promotor katalog.
“Jangan takut gagal. Fokus pada pertumbuhan diri dan tetap bersyukur,” pesannya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto