Jawa Pos Radar Madiun - Band indie pop/alternatif asal Malang, Girl and Her Bad Mood (GAHBM), baru saja merilis album penuh perdana mereka berjudul “Pop Songs, Sad World” pada 5 September 2025 melalui Haum Entertainment.
Album ini menandai transformasi band dari fase “kampus” ke tahap dewasa, baik dari sisi usia maupun tanggung jawab hidup.
GAHBM terbentuk di Malang pada 2018 dan melalui perjalanan panjang menghadapi transisi dewasa, mulai dari lulus kuliah, bekerja, hingga mencari arah hidup, yang menjadi sumber inspirasi lirik dan tema album ini.
Judul “Pop Songs, Sad World” merepresentasikan kombinasi sonik yang ringan (“pop songs”) dengan realitas emosional dan sosial generasi mereka (“sad world”).
Tema Album
Album ini mengeksplorasi berbagai tema yang relevan dengan generasi muda, antara lain:
-
Kecemasan dan ketidakpastian: ketakutan gagal, merasa sendiri, menghadapi perubahan hidup.
-
Romansa dan kegamangan cinta: dari euforia asmara hingga keraguan dan ambivalensi hubungan.
-
Transisi ke dewasa: menyesuaikan diri dengan pekerjaan, tanggung jawab, dan pengalaman perantauan.
-
Harapan dan pemulihan: meski banyak lagu sedih, album ini tetap menyisipkan optimisme dan pesan bahwa hidup terus berjalan.
Secara musikal, album ini tetap berada di ranah indie pop/alternatif pop dengan sentuhan rock ringan, dream pop, serta pengaruh musik internasional yang spesifik.
Haum Entertainment menegaskan bahwa GAHBM masih berakar pada skena lokal Malang sebelum menembus level nasional.
Alasan Album Ini Layak Didengar
1. Relevansi Tematis: Sangat relatable bagi pendengar usia 20-an dan mereka yang sedang mencari arah hidup.
2. Kemajuan Sonik: Struktur lagu, lirik, dan eksperimen musikal menunjukkan kematangan band dibanding era “band kampus”.
3. Keseimbangan Emosi: Meski banyak lagu bertema kesedihan, terdapat garis narasi menuju optimisme dan ketahanan.
4. Daya Tarik Lokal dan Global: Tetap mengakar di indie Malang, namun referensi internasional membuatnya menarik audiens lebih luas.
Dengan 12 lagu yang menggabungkan refleksi hidup, emosi, dan musikalitas, “Pop Songs, Sad World” bukan sekadar album sedih, tetapi representasi perjalanan kolektif generasi “quarter-life” yang mencari jati diri, cinta, dan arah hidup. (fin)
Editor : AA Arsyadani