Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sinopsis Film Pangku: Kisah Ibu, Anak, dan Sopir Truk yang Belajar Menjadi Ayah Sejati di Tengah Kerasnya Hidup Pantura

AA Arsyadani • Rabu, 12 November 2025 | 17:15 WIB
Adegan Film Pangku menampilkan Hadi dan Sartika berbincang di depan warung kopi.
Adegan Film Pangku menampilkan Hadi dan Sartika berbincang di depan warung kopi.

Jawa Pos Radar Madiun - Film “Pangku” garapan Reza Rahadian menghadirkan kisah yang menggetarkan hati tentang perjuangan, cinta, dan makna menjadi mencari sosok ayah sejati.

Dirilis bertepatan dengan momentum Hari Ayah Nasional 2025, film ini mengajak penonton merenungkan bahwa menjadi ayah sejati tidak selalu harus lahir dari ikatan darah, tetapi dari keberanian untuk mencintai dan melindungi.

Berlatar kehidupan keras jalur Pantura, Pangku menyoroti perjalanan Sartika (Claresta Taufan), seorang perempuan muda yang tengah mengandung dan berjuang membangun kehidupan baru bagi anaknya.

Dalam perjalanannya, Sartika bertemu Bu Maya (Christine Hakim), pemilik warung kopi yang tampak dermawan.

Namun, kebaikan itu berubah menjadi jerat sosial ketika Sartika harus bekerja di kedai kopi pangku milik Bu Maya.

Sebuah tempat di mana tubuh perempuan menjadi alat tukar untuk bertahan hidup.

Harapan baru muncul ketika Sartika bertemu Hadi (Fedi Nuril), seorang sopir truk ikan yang melihatnya bukan dari masa lalunya, melainkan dari ketulusannya sebagai seorang ibu.

Hadi hadir tanpa banyak kata, tapi tindakannya berbicara lebih lantang dari ucapan.

Ia menjadi tempat Sartika bersandar dan sosok ayah bagi anaknya, Bayu.

Momen paling emosional terjadi ketika Sartika mendaftarkan Bayu ke sekolah dasar.

Guru menanyakan identitas lengkap ayah, karena nama ayah harus tercantum di ijazah.

Sartika terdiam menahan air mata.

“Aku mau punya anak. Kamu mau punya suami,” kata Hadi saat mereka tengah berpelesir ke pantai.

Kalimat sederhana itu memunculkan gelombang haru.

Bukan karena romantis, tetapi karena keikhlasan seorang lelaki memikul tanggung jawab tanpa perlu pengakuan darah.

Kekuatan film ini juga terletak pada dialog polos Bayu saat bermain layang-layang.

Ketika diminta mencari plastik untuk membuat layang-layang, ia menjawab spontan.

“Nyari kresek mah gampang, tapi cari bapak yang susah.”

Kalimat yang menghunjam hati itu menyiratkan makna kehilangan dan kehangatan yang dirindukan setiap anak.

Dengan sinematografi yang realistis menggambarkan kehidupan Pantura, jalan berdebu, permukiman kumuh, dan cahaya temaram warung kopi, Pangku menjadi refleksi sosial yang kuat.

Christine Hakim menampilkan peran mendalam, sementara Claresta Taufan dan Fedi Nuril menampilkan chemistry yang menyentuh hati.

Tak heran, Pangku meraih empat penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF) 2025.

Di tengah kerasnya hidup, film ini mengingatkan bahwa ayah sejati bukan sekadar hubungan darah, melainkan yang hadir dengan cinta dan tanggung jawab.

Tapi siapa sangka, akhir film ini justru menghadirkan momen paling mengejutkan.

Sebuah penutup yang membungkam suasana, membuat penonton menahan air mata dan terpaku, enggan lekas beranjak dari kursi bioskop. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Sinopsis film Pangku #Film Pangku #Hari Ayah Nasional 2025