Jawa Pos Radar Madiun – Prestasi membanggakan ditorehkan Nursiha Kitana, mahasiswi Universitas Indonesia (UI) asal Magetan.
Perempuan 21 tahun itu terpilih menjadi delegasi UNICEF Indonesia di ajang internasional the 4th Global NCD Alliance Forum 2025 di Kigali, Rwanda, pada 10–17 Februari lalu.
Ia menjadi delegasi termuda dari lebih 66 negara peserta.
Nurisha merupakan founder komunitas Gandeng ODGJ, gerakan yang fokus pada pemberdayaan penyintas gangguan jiwa.
Komunitas tersebut kini hadir di delapan daerah—Jabodetabek, Surabaya, Malang, Madiun, Kediri, Solo, Jogja, dan Jember—dengan 500 relawan dan 300 penerima manfaat.
“Kegiatan kami itu kunjungan panti ODGJ sekaligus memberikan pelatihan dan santunan,’’ ujarnya, kemarin (28/11).
Selama berada di Rwanda, Nurisha terlibat aktif dalam berbagai diskusi mengenai Non-Communicable Diseases (NCDs) dan kesehatan mental.
Salah satu momen penting adalah ketika ia menjadi pembicara dalam UNICEF Session of Youth Empowerment yang digelar UNICEF HQ.
Di panggung internasional tersebut, Nurisha memaparkan praktik pemberdayaan penyintas ODGJ, pelatihan keterampilan, manajemen relawan, hingga kampanye kesehatan mental.
Forum itu juga membahas isu global lain seperti tembakau anak, diabetes, kanker, dan berbagai tantangan kesehatan masyarakat dunia.
“Aku jadi delegasi termuda, usia 20 tahun saat berangkat ke sana,’’ ungkap warga Maospati itu.
Sepulang dari Rwanda, Nurisha kembali mendapat pengakuan.
Ia dinominasikan WHO sebagai peserta Multi Stakeholder Hearing Meeting on NCDs and Mental Health.
Kepada generasi muda, ia menitipkan pesan untuk berani mencoba dan tidak takut menghadapi masa depan.
“Aku yakin banyak teman-teman yang takut masa depan, tapi coba dulu. Gagal itu membangun keberanian,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto