Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Usai Videonya Ditanggapi Prabowo, Guru PAUD NTT yang Mengabdi 36 Tahun Akhirnya Diangkat PPPK: Sampai Sa Tidak Bisa Berjalan, Sa Tetap Mengajar!

AA Arsyadani • Sabtu, 29 November 2025 | 19:46 WIB

 

 

 

Kisah inspiratif Asnat Nenabu, guru PAUD di Desa Fotila, Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kisah inspiratif Asnat Nenabu, guru PAUD di Desa Fotila, Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jawa Pos Radar Madiun - Kisah inspiratif Asnat Nenabu, guru PAUD di Desa Fotila, Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menjadi sorotan publik.

Setelah videonya viral dan ditanggapi langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto, perempuan yang akrab disapa Mama Asnat itu akhirnya resmi diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.

Selama 36 tahun, Asnat mengabdi sebagai guru honorer dengan penghasilan yang sangat terbatas.

Sebelumnya ia hanya menerima upah Rp 200 ribu per bulan, namun hal tersebut tak pernah memadamkan tekadnya untuk mendidik anak-anak di kampung terpencil itu.

“Sampai saya tidak bisa berjalan, baru saya berhenti mengajar. Biar saya berbakti kepada manusia dan bangsa, buat anak-anak saya. Biar sampai saya mata buta, baru saya berhenti,” ujarnya di PAUD Sob’ana Fotila, Kamis (27/11).

Asnat mengawali kariernya dengan mengajar di SMP Kristen Puli sebelum kemudian pindah ke SD Inpres Fotilo.

Karena tidak memiliki ijazah S1, ia memutuskan mengabdikan dirinya sebagai guru PAUD hingga sekarang.

Meski gajinya telah naik menjadi Rp 500 ribu sebulan mulai tahun 2025, ia menegaskan bahwa uang bukanlah tujuan utamanya.

“(Gaji) kami sudah dinaikkan. Satu bulan Rp 500 ribu. Baru enam bulan tahun 2025,” tuturnya.

Baginya, pendidikan adalah panggilan jiwa dan bentuk cinta kepada generasi muda.

Ia ingin menanamkan karakter, etika, serta keberanian sejak usia dini.

“Saya didik mereka dari etika, dari keberanian mereka, dari kejujuran mereka. Saya didik supaya mereka semakin hari semakin bertumbuh yang baik. Kalau dari dasar, PAUD itu didik dengan baik, semakin hari semakin mereka besar, mereka akan punya (karakter),” jelas Mama Asnat.

Dedikasinya pada anak-anak bahkan sudah dimulai sejak mereka masih berada dalam kandungan.

Selain mengajar, Asnat juga menjabat sebagai Ketua Posyandu setempat.

“Saya mendidik mereka mulai dari dalam kandungan ibu, sejak satu bulan dalam kandungan sampai sembilan bulan. Itu saya kawal para ibu hamil sampai melahirkan, lalu mereka dua tahun ke atas, tiga tahun ke atas, saya rangkul lagi untuk masuk ke PAUD,” katanya.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Mama Asnat bekerja sebagai petani setelah selesai mengajar.

Ia menanam jagung, ubi, atau pisang, tergantung musim.

“Untuk kami makan, kami bisa cari,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan, Asnat tetap konsisten menjalankan tugas mulianya.

Ia mengajak seluruh guru di Indonesia untuk terus bersemangat mengabdi demi masa depan anak-anak bangsa.

“Mari kita tanamkan pendidikan yang kuat pada anak-anak kita dari dasar sampai SD, SMP, sampai SMA dan perguruan tinggi. Mari kita semangat untuk mendidik mereka. Kita harus membawa mereka dari kebodohan ke luar kepada kepintaran atau yang terbaik,” pungkasnya. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#guru ntt #timor tengah selatan #PPPK #kisah inspiratif #prabowo #guru paud