Jawa Pos Radar Madiun - Aktris dan aktivis Cinta Laura Kiehl memilih cara yang tak biasa dalam menyambut pergantian tahun 2025 ke 2026. Alih-alih merayakan dengan pesta dan keramaian, Cinta justru menghabiskan momen akhir tahun dalam keheningan total di sebuah pusat meditasi di Thailand Utara.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Cinta membagikan refleksi mendalam tentang keputusannya menjalani tujuh hari meditasi sunyi.
Ia menegaskan bahwa pilihannya bukan berkaitan dengan keyakinan agama tertentu, melainkan kebutuhan mendasar manusia untuk menenangkan pikiran.
“Saya memilih menghabiskan tujuh hari terakhir di tahun ini dalam keheningan, di sebuah pusat meditasi di Thailand Utara. Bukan terikat pada sistem kepercayaan tertentu. Bukan tentang agama, melainkan tentang kebutuhan universal manusia: belajar melatih pikiran agar menemukan kedamaian dan kebahagiaan dari dalam diri,” kata Cinta, Kamis (1/1).
Belajar Berhenti di Dunia yang Terus Menuntut Bergerak
Selama mengikuti proses meditasi, Cinta bertemu dengan banyak orang dari latar belakang kehidupan yang beragam.
Pengalaman tersebut memberinya perspektif baru tentang arti berhenti di tengah dunia yang terus menuntut produktivitas tanpa henti.
Menurut Cinta, manusia kerap lupa bahwa jeda justru menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang.
“Karena saat kita menghentikan pikiran, kita meredam kebisingan. Kita membersihkan kekacauan. Kita menciptakan ruang bagi kejernihan, kekuatan, dan ketangguhan. Dari sanalah kita menjadi lebih siap menghadapi kesulitan, ketidakpastian, dan kehidupan itu sendiri,” tuturnya.
Memilih Diri Sendiri Setelah Lima Tahun Memaksa Diri
Meditasi ini menjadi titik balik penting bagi Cinta Laura. Ia mengakui bahwa selama lima tahun terakhir, dirinya terlalu keras pada diri sendiri hingga mengabaikan kesehatan mental.
“Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, saya memilih diri saya sendiri. Setelah setengah dekade terus mendorong diri, memaksa, dan hidup dalam kondisi mental yang tidak sehat, saya menyadari bahwa saya perlu pulang… kepada diri saya sendiri,” ungkapnya.
Pesan Biksu yang Mengubah Cara Pandangnya
Salah satu momen paling membekas bagi Cinta datang dari percakapan sederhana dengan seorang biksu. Pertanyaan itu membuka kesadarannya tentang betapa besarnya peran pikiran manusia dalam membentuk dunia.
“Seorang biksu bertanya ‘Apa bedanya perang dunia dengan perdamaian dunia?’ Lalu ia menjawab dengan sederhana ‘Semuanya bermula dari pikiran manusia’,” ujar Cinta.
Ia menambahkan, sering kali manusia sibuk memperbaiki dunia luar tanpa merawat sumber dari segala tindakan, yakni pikiran.
“Pikiran yang dibiarkan tanpa pembinaan akan menciptakan kekacauan. Pikiran yang dilatih dengan penuh kepedulian akan melahirkan welas asih, kebijaksanaan, dan kedamaian,” lanjutnya.
Harapan Cinta Laura di Tahun 2026
Menutup refleksinya, Cinta menyampaikan doa dan harapan agar tahun 2026 tidak hanya diisi dengan ambisi dan pencapaian semata, tetapi juga keberanian untuk berhenti dan mendengarkan diri sendiri.
“Semoga kalian menemukan keberanian untuk berhenti sejenak. Untuk mendengarkan ke dalam diri. Dan untuk mengingat bahwa kedamaian di dunia berawal dari kedamaian dalam pikiran,” kata Cinta. (fin)
Editor : AA Arsyadani