Jawa Pos Radar Madiun - Jam tangan milik taipan Amerika, John Jacob Astor IV, kembali menghidupkan kisah tragis tenggelamnya RMS Titanic sinking. Benda bersejarah itu terjual hingga 1 juta dolar AS atau sekitar Rp16 miliar dalam sebuah lelang di Chicago, Amerika Serikat.
Harga tersebut jauh melampaui estimasi awal, menandakan tingginya minat kolektor terhadap artefak yang memiliki cerita kuat di baliknya.
Jam Saku Bersejarah Jadi Incaran Kolektor
Jam yang dilelang merupakan jam saku mewah dari Patek Philippe, yang dibeli oleh Astor melalui Tiffany & Co. pada tahun 1904.
Dalam lelang yang digelar oleh Freeman's Auction pada 22 April, jam ini menjadi sorotan utama di antara puluhan koleksi lainnya. Awalnya, jam tersebut diperkirakan hanya akan terjual di kisaran 300 ribu hingga 500 ribu dolar AS, namun hasil akhirnya justru melambung drastis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai sebuah barang tidak hanya ditentukan oleh material atau merek, tetapi juga oleh cerita sejarah yang melekat padanya.
Baca Juga: Armada Tangki Air BPBD Pacitan Minim, Dua Unit Tak Siap Operasi
Bukan Hanya Jam, Barang Lain Juga Laku Fantastis
Selain jam tangan, sebuah pensil emas milik Astor juga ikut dilelang dan terjual sekitar 204 ribu dolar AS atau Rp 3,5 miliar, lebih dari sepuluh kali lipat dari estimasi awal.
Pensil tersebut dibuat oleh perusahaan Battin & Co. dan juga berasal dari tahun yang sama dengan jam tangan tersebut.
Kedua barang ini diwariskan secara turun-temurun hingga akhirnya dilepas oleh keluarga pewaris terakhir.
Baca Juga: Polygon Heist X2, Sepeda Hybrid Favorit untuk Jalanan Kota dan Touring Ringan
Sosok Astor dan Tragedi Titanic
Astor dikenal sebagai penumpang terkaya di Titanic, dengan kekayaan sekitar 80 juta dolar AS pada tahun 1912—setara lebih dari 2 miliar dolar AS saat ini.
Jenazahnya ditemukan sekitar satu minggu setelah tragedi oleh kapal Mackay-Bennett. Dalam inventaris resmi saat itu, hanya satu jam tangan yang tercatat sebagai barang pribadinya, jam yang kini terjual mahal tersebut.
Kisah pribadinya menambah nilai emosional. Ia menaiki Titanic bersama istri mudanya, Madeleine, setelah menjalani bulan madu panjang di Eropa. Perjalanan itu juga dilakukan untuk menghindari sorotan media terhadap pernikahan mereka yang kontroversial saat itu.
Artefak Titanic: Semakin Langka, Semakin Mahal
Pasar barang koleksi Titanic memang terus menunjukkan tren kenaikan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah artefak serupa juga terjual dengan harga fantastis.
Salah satunya adalah jam milik Isidor Straus yang terjual hingga 2,3 juta dolar AS, menjadikannya salah satu peninggalan Titanic termahal yang pernah dilelang.
Kisah ini menegaskan bahwa benda bersejarah bukan sekadar barang antik, tetapi juga potongan cerita masa lalu yang memiliki nilai emosional dan simbolik tinggi.
Jam tangan milik Astor bukan hanya saksi bisu tragedi, tetapi juga bukti bahwa sejarah, terutama yang penuh drama dan kehilangan—selalu memiliki tempat tersendiri di hati para kolektor dunia. (fin)
Editor : AA Arsyadani