Jawa Pos Radar Madiun - Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa sekaligus pemagang di meja redaksi media online bukanlah perkara sepele. Di satu sisi, ada idealisme dan tuntutan akademis yang harus dipenuhi. Di sisi lain, ritme dunia jurnalistik digital yang serba cepat menuntut kesigapan penuh. Realita inilah yang menjadi makanan sehari-hari para mahasiswa magang jurnalis.
Baca Juga: Rekomendasi HP Murah RAM Besar untuk Anak 2026, Lancar Buat Belajar dan Game
Sebuah feature kehidupan yang sering kali tidak terlihat oleh pembaca di balik layar gawai mereka, di mana adrenalin dan tenggat waktu (deadline) berpadu menjadi rutinitas harian yang menantang.
Dinamika Instruksi Mentor vs Dosen
Pagi hari bagi seorang mahasiswa magang sering kali tidak dimulai dengan sarapan santai, melainkan dengan denting notifikasi grup redaksi. Instruksi harian dari mentor magang bisa datang kapan saja dengan topik yang sangat dinamis.
Satu waktu, tuntutan kejar tayang mengharuskan penyusunan berita straight news mengenai pembaruan aturan seleksi CPNS yang sedang ramai dicari pembaca. Di jam berikutnya, arahan bisa berbelok drastis menuju penulisan artikel panduan gaya hidup, seperti mengulas rekomendasi produk rumah tangga kekinian. Fleksibilitas otak diuji untuk berpindah dari satu gaya penulisan ke gaya penulisan lainnya dalam hitungan menit agar artikel terindeks optimal di mesin pencari.
Namun, begitu naskah tersebut dikirim dan tayang, realita akademis segera memanggil. Keseharian sebagai mahasiswa, seperti rutinitas perkuliahan di Universitas Trunojoyo Madura, menuntut perhatian yang tidak kalah besarnya. Revisi makalah, jurnal, dan tugas kelompok sering kali harus dikerjakan di sela-sela memantau trending topic atau merapikan draf berita.
Baca Juga: Harga Motor Listrik Yadea GS70 Cuma Rp 21 Jutaan: Bawa Fitur Canggih, Jarak Tempuh 100 Km
Bertahan di Tengah Dua Tenggat Waktu
Lantas, bagaimana memutus tarik-ulur antara deadline redaksi dan tenggat waktu portal tugas kampus? Berikut adalah beberapa strategi bertahan (survival kit) yang mau tidak mau harus dikuasai oleh mahasiswa magang:
-
Manajemen Prioritas Skala Jam: Bukan lagi menyusun jadwal harian, melainkan jadwal per jam. Memisahkan window time khusus untuk riset bahan berita dari mentor dan waktu khusus untuk mengerjakan bab pendahuluan tugas kuliah.
-
Seni Berkomunikasi: Menjaga komunikasi yang transparan, baik dengan dosen pembimbing maupun mentor di redaksi. Mentor yang baik umumnya memahami status magang mahasiswanya, asalkan progres penugasan harian tetap terlaporkan dengan jujur.
-
Mengintegrasikan Ilmu: Menggunakan akses dan keterampilan riset jurnalistik untuk memperkaya data tugas kuliah, atau sebaliknya, memanfaatkan teori di bangku kuliah untuk menyusun kerangka artikel analisis (EEAT) yang berbobot bagi media.
Baca Juga: Perkuat Gerakan Literasi, Unipma-Radar Madiun Siapkan Program Kampus Menulis
Menjadi jurnalis magang memang melelahkan dan sering kali membuat jam tidur terpangkas. Namun, gemblengan mental dari mentor dan tekanan ganda ini justru menjadi inkubator terbaik. Di sinilah mental profesional ditempa—sebuah pembuktian bahwa dunia kerja yang sesungguhnya tak sekadar tentang nilai di atas kertas, tetapi tentang ketahanan, adaptasi, dan eksekusi.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani