Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Bedah Buku Ranggawarsita di Ponorogo Bongkar Relevansi “Zaman Edan” dengan Kondisi Hari Ini

AA Arsyadani • Selasa, 26 Mei 2026 | 08:58 WIB
Bedah buku tentang Ranggawarsita digelar di Ponorogo, Sabtu malam (23/5).
Bedah buku tentang Ranggawarsita digelar di Ponorogo, Sabtu malam (23/5).

Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh kegelisahan, buku Racikan Kopi Ranggawarsita, Dari Tegalsari Merekam Zaman Hingga Negeri Hari Ini karya Wirastho hadir membawa sudut pandang baru tentang kehidupan, budaya, dan manusia modern.

Melalui buku tersebut, pembaca diajak memahami ulang kehidupan lewat simbol kopi, kesunyian, serta falsafah hidup Jawa yang diwariskan Raden Ngabehi Ranggawarsita. Tak sekadar mengulas sejarah sang pujangga besar Nusantara, buku ini juga mencoba menerjemahkan kembali makna “zaman edan” yang hingga kini dinilai masih relevan dengan kondisi sosial masyarakat modern.

Kepahitan kopi dalam buku itu dimaknai sebagai lambang realitas hidup yang harus dinikmati perlahan agar manusia mampu memahami kesabaran, kedalaman makna, serta proses pengendapan batin.

Baca Juga: Parlent Gallant Vortex: Jam Tangan Automatic Bergaya Elegan dengan Skeleton Dial dan Sentuhan Premium Modern

Gagasan-gagasan tersebut menjadi bahan utama dalam forum bedah buku yang digelar di Kedai Kopi sekaligus Toko Buku Flavora, Jalan Letjen Suprapto 6 Ponorogo, Sabtu malam (23/05). Acara itu dihadiri sejumlah anak muda pencinta sejarah, seni, budaya, hingga pegiat literasi.

Melalui sosok Bagus Burhan (nama kecil Ranggawarsita), Wirastho mengajak pembaca memasuki dunia Pesantren Tegalsari. Tempat itu digambarkan sebagai ruang pembentukan jiwa, di mana adab dan kebijaksanaan ditempatkan lebih tinggi dibanding sekadar penguasaan ilmu pengetahuan.

Dengan pendekatan sastra kontemplatif, penulis menghidupkan kembali ruh karya-karya besar seperti Serat Kalatidha dan Serat Sabda Jati, termasuk wejangan Kyai Ageng Kasan Besari, dalam bahasa yang lebih dekat dengan pembaca masa kini. Hasilnya bukan sekadar buku sejarah atau sastra, melainkan refleksi tentang manusia modern yang kerap kehilangan arah di tengah derasnya perubahan zaman.

Baca Juga: Tissot PRX: Jam Tangan Sport Luxury Bergaya Old Money yang Banyak Diburu Pencinta Horologi

Dalam forum tersebut, peserta membahas sejumlah tema penting, mulai dari cara Ranggawarsita membaca zaman, peran Tegalsari sebagai pusat intelektual dan spiritual Jawa, hingga pentingnya nilai eling lan waspada dalam menghadapi krisis moral dan budaya saat ini.

Literasi dimaknai lebih luas, bukan sekadar aktivitas membaca buku, melainkan jalan untuk merawat kesadaran budaya dan menjaga kewarasan sosial di tengah banjir informasi modern.

Acara yang dikemas santai dalam suasana cangkrukan itu menjadi ruang temu bagi penikmat kopi, santri, seniman, pengelana budaya, dan komunitas literasi muda Ponorogo. Selain membedah buku, forum tersebut juga memperlihatkan bagaimana ruang alternatif seperti kedai kopi kini berkembang menjadi tempat bertemunya gagasan dan gerakan kebudayaan.

Melalui bukunya, Wirastho mengajak pembaca kembali mendengarkan suara paling sunyi dalam diri sendiri sebagai upaya memahami sejarah, kebudayaan, dan kehidupan secara lebih mendalam. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Ranggawarsita #Kyai Ageng Kasan Besari #bedah buku #tegalsari