Jawa Pos Radar Madiun - Sebuah langkah besar baru saja datang dari Kementerian Pertahanan Indonesia.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamseoddin mengonfirmasi bahwa Indonesia telah melipatgandakan pesanan jet tempur J-10C buatan China,
sebuah keputusan yang bukan hanya berbicara soal jumlah pesawat, tapi tentang arah besar modernisasi TNI Angkatan Udara untuk satu dekade ke depan.
Pengumuman ini menjadi kelanjutan dari konfirmasi pertama yang dibuat Menteri Sjamseoddin pada 16 Oktober 2025.
momen bersejarah yang menandai terobosan pertama ekspor jet tempur China ke kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Menegangkan! Pesawat Garuda Berputar 4,5 Jam di Langit India Gegara Uji Coba Rudal Agni-6
Mengapa J-10C? Karena Ancaman di Kawasan Semakin Nyata
Pilihan Indonesia bukan tanpa kalkulasi. Sumber-sumber pertahanan dalam negeri menegaskan bahwa J-10C dipilih secara spesifik,
karena kemampuannya untuk menghadapi jet tempur generasi kelima yang sudah dioperasikan oleh kekuatan udara negara-negara di kawasan regional.
Ini bukan klaim kosong. Dalam latihan militer Zilzal-II yang digelar di Qatar pada Januari 2024,
J-10C milik Angkatan Udara Pakistan berhasil meraih kemenangan telak dalam simulasi pertempuran udara melawan Eurofighter milik Qatar,
sebuah hasil yang mengejutkan banyak analis Barat dan sekaligus mempertegas reputasi jet ini di mata dunia.
Baca Juga: Mencekam! Roda Pesawat Boeing 767 United Airlines Tabrak Tiang Lampu dan Truk di Jalan Raya AS
Dan yang paling mengguncang adalah kejadian di Mei 2025 ketika J-10C Pakistan dilaporkan berhasil mengalahkan jet tempur Rafale milik Angkatan Udara India dalam pertempuran intensitas tinggi.
Ini adalah uji tempur pertama J-10C di kondisi nyata, dan hasilnya berbicara sendiri.
Apa Sebenarnya J-10C Itu?
J-10 adalah jet tempur ringan bermesin tunggal yang dikembangkan China sebagai pasangan dari jet tempur berat bermesin ganda J-11 dan J-16
membentuk kombinasi high-low yang serupa dengan filosofi F-15/F-16 milik Amerika Serikat.
J-10C sendiri merupakan varian paling canggih dari keluarga ini,
Baca Juga: Titik Jatuh Pesawat ATR di Maros Ditemukan, TNI AU Kerahkan Korpasgat dan Helikopter Caracal
masuk dalam kategori generasi 4+ dengan serangkaian peningkatan teknologi yang diturunkan langsung dari program jet tempur siluman generasi kelima J-20, meliputi :
Material komposit canggih untuk mengurangi bobot dan meningkatkan manuverabilitas
Radar AESA (Active Electronically Scanned Array) untuk deteksi dan pelaca kan target yang sangat akurat
Rudal udara-ke-udara PL-10 dan PL-15 dengan PL-15 diklaim melampaui jangkauan AIM-120 AMRAAM milik Amerika
Chief designer J-10C, Li Jun, bahkan secara terbuka menyatakan di awal Mei lalu bahwa pesawat ini masih punya ruang pengembangan yang signifikan,
dan akan memiliki masa pakai serta nilai pasar setidaknya dua hingga tiga dekade ke depan.
Baca Juga: Kecerdasan Buatan Makin Canggih, PBB Peringatkan Risiko yang Tak Boleh Diabaikan
Indonesia: Klien Kedua Setelah Pakistan, Tapi Bukan yang Terakhir
Dengan keputusan ini, Indonesia resmi menjadi klien kedua yang terkonfirmasi untuk J-10C setelah Pakistan.
Laporan tidak resmi menyebut Mesir juga kemungkinan telah memesan,
sementara Sudan sempat disebut sebagai calon klien pertama sebelum pemerintahannya jatuh dalam kudeta yang didukung Barat pada 2019.
Keputusan Indonesia ini juga tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik yang lebih luas.
Jakarta sebelumnya sempat berencana membeli jet tempur Su-35 Rusia, namun terpaksa mundur akibat ancaman sanksi Amerika Serikat.
Sejak awal dekade ini, Indonesia secara konsisten mengambil langkah-langkah untuk "membentengi" ekonominya dari ancaman sanksi,
Baca Juga: Oliver Tree, Musisi Nyentrik di Balik "Life Goes On," Meninggal Dunia di Usia 32 Tahun
termasuk mengurangi ketergantungan pada sistem pembayaran berbasis Barat.
Memilih J-10C dari China, dalam konteks ini, bukan hanya keputusan militer ini juga keputusan strategis dan geopolitik.
Industri Aviasi Tempur China: Dari Murid Menjadi Guru
Prestasi industri aviasi tempur China dalam satu dekade terakhir sulit diabaikan. Pada 2017,
China menjadi negara kedua di dunia yang mengoperasikan jet tempur siluman generasi kelima buatan dalam negeri sendiri yaitu J-20.
Kemudian pada Desember 2024, China mengejutkan dunia dengan menjadi negara pertama yang memperlihatkan prototipe jet tempur generasi keenam dalam tahap penerbangan.
Proyeksi saat ini menempatkan China untuk memimpin dunia setidaknya satu dekade*dalam menghadirkan jet tempur generasi keenam ke layanan aktif.
Baca Juga: Nissan Contek Cara China dan Hasilnya Mengejutkan, Skyline Generasi Baru Lahir Hanya dalam 26 Bulan
Implikasinya bagi J-10C juga menarik: sangat mungkin teknologi-teknologi yang sedang dikembangkan,
untuk program generasi keenam tersebut akan diintegrasikan ke J-10C di masa mendatang dan bisa ditawarkan kepada Indonesia sebagai paket modernisasi lanjutan.
Apa Artinya Ini bagi TNI AU?
Bagi Indonesia, kedatangan J-10C bukan sekadar penambahan jumlah pesawat di hanggar. Ini adalah lompatan kualitatif yang nyata.
Dengan kemampuan pertempuran jarak jauh di luar jangkauan visual (BVR),
sistem peperangan elektronik canggih, dan rekam jejak tempur yang sudah teruji J-10C memberi TNI AU sebuah platform yang benar-benar kompetitif di lingkungan ancaman modern.
Dalam kawasan di mana kekuatan udara tetangga terus tumbuh dan modernisasi jet tempur generasi kelima semakin umum,
kehadiran J-10C di skuadron TNI AU adalah jawaban Jakarta bahwa Indonesia tidak akan tertinggal. (*)
*Dwiki Dermawan, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun