Jawa Pos Radar Madiun – Kabar duka menyelimuti Tanah Air. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB.
Putra bungsu Presiden Pertama RI Soekarno dari pernikahannya dengan Fatmawati ini mengembuskan napas terakhir di RS MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Mendiang berpulang pada usia 73 tahun.
Sebagai bagian dari keluarga besar Bung Karno sekaligus adik kandung Megawati Soekarnoputri, Guruh memiliki rekam jejak panjang di kancah perpolitikan nasional.
Ia pernah mengabdi sebagai anggota wakil rakyat di DPR RI mewakili PDI Perjuangan selama puluhan tahun, yakni pada periode 1992–1997, dan berlanjut pada 1999 hingga 2024.
Namun, di luar panggung politik, nama pria kelahiran 13 Januari 1953 ini paling benderang sebagai maestro di dunia seni.
Sejak muda, Guruh piawai menari dan bermusik. Ia adalah sosok penting di balik lahirnya grup kesenian legendaris Swara Mahardhika dan GSP Production (Gencar Semarak Perkasa) yang kerap melahirkan pergelaran kolosal kebanggaan Indonesia.
Baca Juga: Kala Sang Surya Tenggelam, Guruh Soekarnoputra Berpulang
Bersama musisi besar seperti Chrisye, Keenan Nasution, dan Abadi Soesman, ia juga mendirikan grup musik Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan. Tangan dinginnya menelurkan sederet mahakarya abadi, mulai dari Kala Cinta Menggoda hingga Kala Sang Surya Tenggelam yang kembali populer saat menjadi lagu tema serial Gadis Kretek (2023).
Dedikasi luar biasanya di dunia seni membuat Guruh dianugerahi Lifetime Achievement Award dari Anugerah Musik Indonesia (AMI) pada 2010.
Namanya juga diabadikan dalam daftar 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa versi majalah Rolling Stone (2008).
Baca Juga: Jadwal Asian Games 2026 Hari Ini: Kans Tambah Emas dari Angkat Besi 75 Kg Putra
Jauh sebelumnya, Pemerintah Prancis bahkan menyematkan gelar kehormatan Knight of the Order of Arts and Letters (1991) kepadanya.
Di balik kecemerlangannya di dunia seni dan politik, pria yang pernah menikah dengan perempuan asal Uzbekistan, Guseynova Sabina Padmavati, ini juga sosok yang haus ilmu.
Guruh tercatat pernah menimba ilmu Arkeologi di Universitas Amsterdam, Belanda, hingga akhirnya meraih gelar Magister Sains (M.Si) Administrasi Publik.
Kini, sang maestro telah beristirahat dengan tenang. Meski raga telah tiada, karya-karya besarnya akan terus hidup melintasi zaman. (fin)