PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Angin timur berembus kencang di perairan Laut Banda. Laut yang memiliki palung terdalam di Indonesia itu menyimpan kenangan khusus bagi Yunus Mahatma. Speedboat yang ditumpanginya diterjang ombak setinggi empat meter. Perahu mesin cepat itu seolah terlumat habis. Mahatma yang duduk di dek sengaja mengencangkan pegangannya. ‘’Speedboat itu berkapasitas sepuluh penumpang,’’ kenangnya, Selasa (15/2).
Ya, Mahatma harus menempuh perjalanan laut menegangkan itu untuk mengobati pasien yang tinggal di desa seberang pulau. Butuh waktu perjalanan laut selama empat jam. Dia sadar bahwa seseorang yang sedang sakit mustahil menempuh perjalanan berisiko itu. Mahatma rela mendatangi pasien dari satu desa ke desa lain yang terpisahkan pulau yang masuk wilayah kerja Puskesmas Kepa, Maluku Utara. ‘’Empat kali dalam seminggu saya harus menghadapi gelombang, pasien tidak mungkin datang sendiri ke puskesmas,’’ katanya.
Mahatma menceritakan pengalamannya itu saat menjadi kepala Puskesmas Kepa pada 1991-1994 silam. Tugasnya berpindah ke kota saat menjabat Kasi P2MD Dinkes Provinsi Maluku di usia 30 tahun. Dokter itu mendapat penghargaan dari Menteri Kesehatan (Menkes) Achmad Sujudi karena rela bertugas di daerah terpencil. ‘’Bersamaan pecah konflik di Maluku tahun 1999, saya pindah tugas ke RSUD dr Sayidiman, Magetan,’’ jelas Mahatma.
Dia mengambil program spesialis penyakit dalam di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang hingga lulus 2006 lalu. Lagi-lagi Mahatma harus bertugas di luar pulau ketika menjalani program dokter fungsional wajib kerja spesialis (WKS) di RSU Aceh Besar. Pun, dia sempat menjalankan tugas sebagai dokter spesialis untuk misi perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). ‘’Lalu balik lagi jadi dokter spesialis di RSUD dr Sayidiman,’’ ungkap pria kelahiran Blitar 1964 itu.
Di sela kesibukannya bertugas dan membuka praktik, Mahatma tercatat sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Poltekes Surabaya Cabang Magetan. Karier sebagai PNS kian mengkilap. Dia dipercaya sebagai ketua komite medis RSUD dr Sayidiman pada 2010-2013. Setahun kemudian menjadi direktur. Menapak tilas jika Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko akhirnya memilih Mahatma menakhodai RSUD dr Harjono. ‘’Saya terpanggil memajukan rumah sakit ini sebagai rujukan di wilayah Jawa Timur bagian barat,’’ terangnya.
Mahatma menginginkan pelayanan berstatus badan layanan umum daerah (BLUD) milik Pemkab Ponorogo sekelas RSUD dr Soedono, Madiun, yang notabene kepunyaan Pemprov Jatim. Apalagi, dua rumah sakit itu sama-sama bertipe B. Mahatma berencana membangun instalasi gawat darurat (IGD) terpadu one stop service di atas lahan seluas 1.500 meter persegi. ‘’Seluruh layanan tersedia di situ, mulai pemeriksaan, laboratorium, rontgen, operasi, sampai recovery room,’’ lanjut suami drg Ratnawati itu.
Dia juga berencana mendirikan gedung pelayanan kateterisasi jantung. Prosedur yang memanfaatkan teknologi untuk mendeteksi berbagai kelainan jantung. Bersamaan itu, dia juga membenahi sistem numerasi, pelayanan, hingga standard operating procedure (SOP). ‘’Pelayanan lengkap tanpa harus merujuk pasien ke rumah sakit di luar daerah,’’ pungkasnya. (kid/hw/c1/her)
Editor : Hengky Ristanto