Jawa Pos Radar Madiun – Dalam epik Mahabharata, nama Ratu Sudesna mungkin tidak setenar tokoh-tokoh utama lainnya.
Namun, kehadirannya dalam Wirataparwa memberi warna penting dalam masa penyamaran Pandawa dan Drupadi setelah pengasingan panjang mereka di hutan.
Setelah mengarungi kehidupan berat selama 12 tahun di hutan, Pandawa dan Drupadi diwajibkan menjalani satu tahun terakhir dalam penyamaran tanpa boleh diketahui jati dirinya.
Bila sampai ketahuan, masa pengasingan mereka harus diulang dari awal.
Maka, mereka pun memilih kerajaan Wirata sebagai tempat persembunyian, menyamar sebagai rakyat jelata.
Di sinilah peran Sudesna, permaisuri Raja Wirata, menjadi penting. Dalam kisahnya, Sudesna bertemu Drupadi yang menyamar dengan nama Malini, seorang pelayan dari golongan sairandri.
Drupadi dikisahkan sedang berjalan-jalan di pasar saat menarik perhatian Sudesna karena kecantikan dan kewibawaannya yang tak biasa.
Gerak-geriknya terlalu halus, terlalu anggun untuk ukuran seorang pelayan biasa.
Penasaran, Sudesna pun menanyai Malini tentang asal-usulnya.
Drupadi menjawab dengan hati-hati, mengaku sebagai mantan dayang dari istana Indraprastha yang kehilangan pekerjaan setelah keruntuhan Pandawa.
Awalnya, Sudesna tetap curiga. Ada sesuatu dari sosok Malini yang tak sesuai dengan pengakuannya.
Namun, ia akhirnya mengabaikan insting itu dan menerima Drupadi sebagai pelayan pribadinya.
Sebagai sairandri, Drupadi menunjukkan kesetiaan dan keterampilan luar biasa dalam melayani sang ratu.
Ia bekerja dengan cekatan, menjaga sikap, dan tak sekalipun melampaui batasan.
Dalam bayang-bayang ancaman terbongkarnya penyamaran, Drupadi mampu bertahan, dan kepercayaan Ratu Sudesna menjadi benteng aman yang tak ternilai.
Peran Sudesna memang bukan protagonis utama dalam Mahabharata.
Namun keputusannya menerima Drupadi sebagai pelayan (meski diselimuti kecurigaan) memberi ruang bagi Pandawa untuk melewati masa penyamaran dengan selamat.
Tanpa perlindungan tak langsung dari istana Wirata, kisah Mahabharata bisa saja berbelok jauh dari takdirnya. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani