Jawa Pos Radar Madiun - Banyak istri merasa kewalahan karena pekerjaan rumah menumpuk sementara suami tampak kurang terlibat.
Kondisi tidak mau membantu tak selalu dipicu oleh rasa malas, melainkan bisa berasal dari faktor psikologis, pola asuh masa kecil, hingga kebiasaan bertahun-tahun yang terbentuk tanpa sengaja.
Dengan memahami penyebabnya, pasangan dapat membangun kerja sama yang lebih harmonis dalam mengurus rumah.
1. Stereotip Gender yang Masih Melekat Kuat
Sebagian suami tumbuh di keluarga yang memisahkan peran secara tegas: laki-laki bekerja, perempuan mengurus rumah.
Cara pandang seperti ini terbawa hingga pernikahan dan membuat mereka menganggap pekerjaan rumah sebagai tugas istri.
Pola asuh dan budaya keluarga besar sering memperkuat keyakinan tersebut sehingga suami tidak menyadari bahwa pembagian tugas seharusnya bisa lebih fleksibel dan setara.
2. Pernah Merasa Dikritik dan Jadi Enggan Mencoba Lagi
Ada pula suami yang awalnya mau membantu, tetapi mundur setelah pernah dikomentari atau dikritik tentang cara mereka melakukannya.
Komentar kecil seperti “salah”, “kok gitu sih”, atau “aku ulangi saja” membuat mereka merasa tidak dihargai.
Dari pengalaman itu, suami akhirnya mengambil jalan aman: tidak melakukan apa-apa daripada harus menghadapi kritik.
3. Tidak Tahu Cara Memulai atau Tidak Menguasai Tugas Rumah
Beberapa suami benar-benar tidak tahu bagaimana mengerjakan tugas rumah karena tidak terbiasa sejak kecil.
Kurang pengalaman membuat mereka bingung harus mulai dari mana, takut melakukan kesalahan, atau merasa tidak kompeten.
Ketidakpercayaan diri ini sering membuat mereka terlihat menghindar, padahal sebenarnya kebingungan.
4. Kebiasaan yang Terbentuk dari Rutinitas Bertahun-Tahun
Di banyak rumah tangga, istri sering mengerjakan segalanya lebih dulu tanpa sempat meminta bantuan.
Tanpa disadari, suami pun terbiasa dengan pola tersebut. Ketika pekerjaan rumah selalu selesai tanpa mereka perlu turun tangan, mereka tidak merasa memiliki tanggung jawab atau dorongan untuk ikut mengerjakan.
5. Suami Menempatkan Fokus pada Hal yang Dianggap Lebih Prioritas
Sebagian pria menilai pekerjaan rumah tidak mendesak dibandingkan pekerjaan kantor, urusan kendaraan, atau perbaikan bagian rumah.
Tugas seperti mencuci piring atau menyapu terlihat kecil dan “tidak urgent”, sehingga tidak masuk dalam daftar prioritas mereka. Cara pandang ini membuat pekerjaan rumah selalu tertunda.
Solusi untuk Membangun Kerja Sama yang Lebih Seimbang
1. Komunikasikan dengan Nada Positif
Alih-alih menyalahkan, sampaikan kebutuhan secara jelas dan ramah. Nada yang lembut lebih mudah diterima dan tidak memicu defensif.
2. Buat Pembagian Tugas yang Spesifik
Daftar tugas harian atau mingguan membuat suami tahu apa yang harus dilakukan tanpa menunggu diarahkan.
3. Apresiasi Setiap Bantuan
Ucapan terima kasih atau penghargaan kecil dapat meningkatkan motivasi suami untuk terlibat lebih sering.
4. Ajarkan Tanpa Menggurui
Jika suami tidak tahu cara menyelesaikan tugas tertentu, pandu langkahnya dengan sabar tanpa kritik yang menjatuhkan. (cor)
Editor : Andi Chorniawan