Jawa Pos Radar Madiun - Produsen sepeda lipat asal Bandung, Kreuz, hadir dengan segmen sepeda listrik atau ebike.
Langkah itu merespons kebutuhan mobilitas perkotaan yang menuntut efisiensi, jarak tempuh lebih jauh, serta solusi transportasi yang ramah lingkungan.
Menariknya, Kreuz memilih pendekatan berbeda dengan tetap mempertahankan karakter sepeda konvensional pada produk ebike-nya.
Konsep Ebike Kreuz
Hal tersebut diungkap Kang Yudi, sosok di balik pengembangan Kreuz dalam video bertajuk Kreuz Kembangkan Ebike di kanal YouTube eBikeTV id.
Kang Yudi menjelaskan bahwa ebike Kreuz bukan dimaksudkan sebagai pengganti sepeda, apalagi motor listrik.
Melainkan dirancang sebagai sepeda dengan bantuan tenaga listrik, sehingga pengalaman mengayuh tetap menjadi pusat dari keseluruhan desain dan teknologi yang digunakan.
Ebike ini dirancang untuk menjaga rasa bersepeda.
Sistem pedal assist dipilih agar tenaga listrik bekerja mengikuti kayuhan, bukan menggantikannya.
Pendekatan ini membuat karakter sepeda lipat Kreuz yang mirip Brompton tetap terasa, meski sudah dibekali teknologi listrik.
Spesifikasi Teknis Ebike Kreuz
Berdasarkan informasi di unggahan Instagram Kreuz, Ebike Kreuz menggunakan sistem pedal assist dengan 12 magnet yang menghasilkan respons halus dan natural saat dikayuh.
Untuk pengaturan daya, sepeda ini dibekali controller KT dengan opsi 36V atau 48V berdaya 14A.
Seluruh sistem terhubung ke display KT LCD 4 yang mendukung tegangan 24V, 36V, hingga 48V.
Sehingga pengguna dapat memantau kecepatan, level bantuan listrik, dan kondisi baterai secara real time.
Baterai dan Jarak Tempuh
Sebagai sumber tenaga, Kreuz membenamkan baterai 36V berkapasitas 10 Ah yang dipadukan dengan charger 2A.
Dengan konfigurasi tersebut, ebike Kreuz diklaim mampu menempuh jarak sekitar 50 hingga 60 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Jarak tempuh ini dinilai ideal untuk kebutuhan komuter harian di wilayah perkotaan maupun perjalanan jarak menengah.
Fitur Pendukung untuk Mobilitas Kota
Untuk menunjang kenyamanan, ebike Kreuz dilengkapi thumb throttle atau gas ibu jari.
Selain itu sistem kelistrikan dengan waterproof harness dan kabel yang aman digunakan di berbagai kondisi cuaca.
Dari sisi utilitas, tersedia rak depan, tas kulit, dan material Cordura yang mendukung aktivitas harian tanpa menghilangkan estetika sepeda lipatnya.
Tantangan Pasar dan Arah Pengembangan
Pengembang Kreuz menilai tantangan ebike di Indonesia masih terletak pada edukasi pasar dan persepsi publik.
Namun, dengan pendekatan desain yang mempertahankan karakter sepeda lipat mirip Brompton, Kreuz optimistis ebike lokal dapat diterima sebagai solusi mobilitas yang efisien, sehat, dan berkelanjutan.
Melalui pengembangan ebike ini, Kreuz berharap sepeda listrik tidak hanya dipandang sebagai alat transportasi alternatif.
Tetapi juga bagian dari gaya hidup urban yang lebih sadar lingkungan. (cor)
Editor : Andi Chorniawan