Jawa Pos Radar Madiun – Tradisi berbagi angpau saat Lebaran masih menjadi kebiasaan di banyak keluarga. Namun, menentukan nominal sering kali menjadi dilema, terutama saat jumlah penerima cukup banyak.
Tidak sedikit yang akhirnya over budget karena tidak merencanakan sejak awal. Padahal, nominal angpau seharusnya disesuaikan dengan kemampuan agar tidak mengganggu keuangan.
Berikut panduan menentukan nominal angpau Lebaran agar tetap bijak dan terkontrol.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Instruksikan THR 2026 Cair H-7 Lebaran, Siapkan 54 Posko Aduan di Jawa Timur
Prioritaskan Kondisi Keuangan
Menentukan nominal angpau sebaiknya dimulai dari kondisi finansial.
Kebutuhan utama seperti belanja rumah tangga, zakat, dan tabungan harus tetap menjadi prioritas. Jangan memaksakan nominal besar hanya demi gengsi.
Kisaran Nominal Berdasarkan Usia
Untuk mempermudah, berikut kisaran nominal yang umum digunakan saat Lebaran:
Anak balita – SD: Rp5.000 – Rp20.000
Anak SMP – SMA: Rp20.000 – Rp50.000
Remaja/keponakan dekat: Rp50.000 – Rp100.000
Nominal ini fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Pertimbangkan Kedekatan
Kedekatan dengan penerima juga bisa menjadi acuan.
Keluarga inti biasanya mendapat nominal lebih besar dibandingkan tetangga atau kenalan. Cara ini membantu menjaga keseimbangan pengeluaran.
Gunakan Sistem Budget Total
Tentukan total anggaran sejak awal, misalnya Rp500 ribu hingga Rp1 juta.
Setelah itu, baru dibagi ke masing-masing penerima. Metode ini lebih aman agar pengeluaran tetap terkendali.
Tidak Harus Sama Rata
Memberikan nominal berbeda bukan hal yang salah.
Yang terpenting adalah niat berbagi, bukan keseragaman jumlah. Dengan begitu, pembagian bisa lebih fleksibel.
Siapkan Uang Pecahan Kecil
Menyiapkan uang pecahan kecil akan mempermudah pembagian.
Selain praktis, cara ini juga membantu mengontrol pengeluaran agar tidak berlebihan.
Baca Juga: Resep Tepo Tahu Khas Magetan, Menu Lebaran Sederhana yang Mudah Dibuat di Rumah
Utamakan Makna Berbagi
Angpau bukan soal besar kecilnya nominal.
Nilai utama dari tradisi ini adalah berbagi kebahagiaan saat Lebaran. Memberi dengan tulus jauh lebih bermakna dibanding nominal besar namun memberatkan.
Dengan perencanaan yang tepat, pembagian angpau bisa tetap berjalan tanpa mengganggu kondisi keuangan. Tradisi berbagi pun tetap terasa hangat dan bermakna saat Idul Fitri.
Editor : Andi Chorniawan