Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sejarah Baju Lebaran, Ternyata Sudah Ada sejak Zaman Nabi, Ini Kisahnya

Elin Restiyani • Jumat, 20 Maret 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi baju Lebaran. (freepik)
Ilustrasi baju Lebaran. (freepik)

Jawa Pos Radar Madiun – Mengenakan baju baru saat Hari Raya Idul Fitri sudah menjadi tradisi turun-temurun di Indonesia. 

Kebiasaan ini umumnya dimaknai sebagai simbol kembali ke fitrah atau kesucian setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.

Namun, tradisi ini ternyata memiliki akar sejarah panjang, baik di Indonesia maupun dalam kisah yang berkembang sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Tradisi Baju Lebaran di Indonesia

Tradisi mengenakan baju baru saat Lebaran di Indonesia sudah ada sejak masa Kesultanan Banten pada 1596.

Baca Juga: 7 Tips Memilih Baju Lebaran 2026: Tampil Keren tapi Tetap Nyaman di Tengah Cuaca Panas

Berdasarkan catatan Badan Penghubung Provinsi Bangka Belitung, masyarakat di wilayah tersebut telah terbiasa menyiapkan pakaian baru untuk merayakan Idul Fitri.

 Tradisi ini kemudian berkembang ke berbagai daerah, termasuk Yogyakarta, dan bertahan hingga sekarang.

Berkembang Sejak Abad ke-16

Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, tradisi baju Lebaran mulai muncul pada abad ke-16.

Pada masa itu, kebiasaan ini berawal dari lingkungan keluarga kerajaan di Banten.

Keinginan keluarga raja untuk mengenakan pakaian baru saat Lebaran kemudian diikuti oleh masyarakat.

Mayoritas penduduk yang berprofesi sebagai petani bahkan beralih menjadi tukang jahit untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Baca Juga: Libur Lebaran Makin Seru dengan Menginap di Tempat Wisata, Ini 8 Penginapan Instagramable di Jawa Timur

Sejak saat itu, baju Lebaran dimaknai sebagai simbol lahir kembali sekaligus tanda kesucian hati setelah menjalankan ibadah puasa.

Makna Filosofis Baju Lebaran

Seiring waktu, tradisi ini tidak hanya menjadi kebiasaan sosial, tetapi juga memiliki makna mendalam.

Baju baru dimaknai sebagai representasi perubahan diri, kebersihan hati, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan.

Kisah Baju Lebaran di Zaman Nabi Muhammad SAW

Tradisi mengenakan pakaian terbaik saat Idul Fitri ternyata juga memiliki kisah yang berkembang sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Resep Tepo Tahu Khas Magetan, Menu Lebaran Sederhana yang Mudah Dibuat di Rumah

Melansir laman Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Syahr Asyub dari Al-Ridha dan dinukil oleh Hakim Al-Naisaburi dalam kitabnya Al-Amali.

Singkat cerita, cucu Rasulullah, Hasan dan Husein, tidak memiliki baju baru untuk merayakan Idul Fitri karena kondisi ekonomi keluarga mereka.

Hasan dan Husein pun sedih melihat teman-temannya mengenakan pakaian baru. Kesedihan itu mereka sampaikan kepada ibunya, Fatimah.

"Wahai Ibu, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran kecuali kami. Mengapa Ibu tidak menghiasi kami?"

Fatimah menjawab bahwa pakaian mereka masih berada di tukang jahit. Namun hingga malam takbiran tiba, pakaian tersebut belum juga datang.

Sebenarnya Fatimah tidak memiliki cukup uang untuk membeli pakaian baru bagi kedua putranya. Ia pun menangis melihat keinginan anak-anaknya.

Baca Juga: 2.104 Warga Madiun Terima BLTD Tahap I, Diingatkan Jangan Buat Baju Lebaran

Tak lama kemudian, pintu rumah mereka diketuk. Seorang tukang jahit datang membawa hadiah pakaian untuk Hasan dan Husein.

"Wahai putri Rasulullah, saya adalah tukang jahit, saya datang membawa hadiah pakaian untuk kedua putramu," kata tukang jahit.

Ia membawa dua gamis, dua celana, dua mantel, dua sorban, dan dua pasang sepatu hitam.

Ketika Rasulullah datang, beliau menjelaskan bahwa sosok tukang jahit tersebut bukan manusia biasa, melainkan Malaikat Ridwan, penjaga surga.

Beliau mengatakan, "Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan malaikat Ridwan sang penjaga surga."

Tradisi baju baru saat Lebaran tidak hanya sekadar kebiasaan turun-temurun. Di baliknya, terdapat sejarah panjang serta makna spiritual tentang kesucian, harapan, dan kebahagiaan dalam menyambut hari kemenangan.

Editor : Andi Chorniawan
#baju lebaran #sejarah #asal usul #tradisi #makna #budaya