Jawa Pos Radar Madiun - Pertanyaan mengenai apakah Huawei akan kembali menggunakan layanan Google (GMS) secara resmi masih sering terdengar.
Namun, melihat peta persaingan teknologi saat ini, peluang kembalinya "hubungan" kedua raksasa tersebut terlihat sangat kecil, bahkan nyaris mustahil.
Meski secara hardware perangkat Huawei sering dianggap yang terbaik di dunia, absennya layanan resmi Google menjadi tantangan tersendiri bagi penjualannya di pasar Indonesia. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar?
4 Alasan Utama Huawei Tetap Mandiri di Tahun 2026
Ada beberapa faktor teknis dan geopolitik yang membuat Huawei dan Google tetap berjalan di jalur yang berseberangan:
1. Tembok Raksasa Kebijakan Amerika Serikat
Selama Huawei masih berada dalam Entity List (daftar hitam perdagangan AS), Google secara hukum dilarang memberikan lisensi GMS kepada Huawei.
Hingga Maret 2026, belum ada perubahan kebijakan signifikan dari Washington yang memungkinkan kerja sama ini pulih seperti sediakala.
2. Lahirnya HarmonyOS NEXT yang Benar-Benar Mandiri
Huawei tidak lagi sekadar "menunggu" Google. Mereka telah meluncurkan HarmonyOS NEXT, versi sistem operasi yang benar-benar independen.
Berbeda dengan versi awal, sistem terbaru ini tidak lagi berbasis Linux/Android, sehingga tidak bisa lagi menjalankan file APK mentah secara langsung.
Huawei kini fokus membangun aplikasi asli (native) di Huawei AppGallery.
3. Investasi Miliaran Dolar pada HMS
Huawei telah menginvestasikan dana raksasa untuk membangun HMS (Huawei Mobile Services) sebagai pengganti Google.
Mulai dari penyimpanan cloud, Petal Maps, hingga toko aplikasi.
Kembali ke ekosistem Google akan membuat investasi infrastruktur ini sia-sia. Huawei kini lebih memilih memposisikan diri sebagai kompetitor ketiga bagi Android dan iOS.
Baca Juga: Kecepatan Internet HP Bisa Tembus 1TB, Kenali Teknologi 6G dan Perbedaannya dengan 5G
4. Misi Kemandirian Teknologi Tiongkok
Memiliki sistem operasi buatan dalam negeri yang sukses adalah simbol kedaulatan teknologi bagi pemerintah Tiongkok.
Kembali ke ekosistem AS dianggap sebagai kemunduran dalam visi strategis jangka panjang Tiongkok untuk lepas dari ketergantungan teknologi Barat.
Bagaimana Nasib Pengguna Huawei di Indonesia?
Meskipun secara resmi tidak memiliki GMS, pengguna setia Huawei di Indonesia tetap memiliki "jalan pintas" untuk mengakses layanan populer melalui cara alternatif:
GBox atau GSpace: Aplikasi virtual yang memungkinkan layanan Google berjalan di dalam sandbox pada HP Huawei.
MicroG: Proyek open-source yang membantu aplikasi yang membutuhkan layanan Google tetap berfungsi tanpa GMS resmi.
Diprediksi, Huawei akan terus memperkuat HarmonyOS sebagai ekosistem mandiri yang terpisah dari Google selamanya. (rio/naz)
Editor : Mizan Ahsani