Jawa Pos Radar Madiun - Di era digital 2026, anak-anak semakin akrab dengan game mobile seperti Mobile Legends: Bang Bang, Free Fire, hingga Roblox.
Game memang bisa menjadi sarana hiburan sekaligus melatih kreativitas dan kemampuan berpikir.
Namun, tanpa pengawasan, penggunaan HP juga berpotensi menimbulkan risiko serius.
Mulai dari kecanduan, paparan konten tidak sesuai usia, hingga interaksi berbahaya di dunia online, semua perlu diantisipasi sejak dini.
Baca Juga: 4 Rekomendasi HP ASUS Gaming Harga Rp 3–5 Jutaan, Pilihan Terbaik untuk Gamer Berat
Karena itu, peran orang tua menjadi kunci utama agar anak tetap aman sekaligus mendapatkan manfaat positif dari teknologi.
1. Batasi Waktu Bermain agar Tidak Kecanduan
Anak-anak cenderung sulit mengontrol waktu saat bermain game. Tanpa batasan yang jelas, mereka bisa bermain berjam-jam tanpa sadar.
Idealnya, waktu bermain dibatasi maksimal satu hingga dua jam per hari. Selain itu, penting untuk menghindari bermain game menjelang waktu tidur karena dapat mengganggu kualitas istirahat dan kesehatan mata.
Kebiasaan ini akan membantu anak lebih disiplin dan tidak bergantung pada gadget sebagai satu-satunya hiburan.
2. Manfaatkan Fitur Kontrol Orang Tua
Teknologi sebenarnya sudah menyediakan solusi untuk membantu orang tua mengawasi aktivitas anak.
Aplikasi seperti Google Family Link dan Apple Screen Time memungkinkan orang tua mengatur penggunaan perangkat dengan lebih mudah.
Fitur ini dapat digunakan untuk membatasi durasi layar, memblokir konten yang tidak sesuai, hingga mengontrol aplikasi yang diunduh anak.
Dengan pengaturan yang tepat, risiko paparan konten negatif bisa diminimalkan.
3. Pilih Game Sesuai Usia Anak
Tidak semua game cocok untuk anak-anak. Beberapa game mengandung unsur kekerasan atau interaksi bebas yang kurang aman.
Baca Juga: 8 Rekomendasi Laptop ASUS Murah untuk Pelajar hingga Gamer Sultan
Orang tua sebaiknya memilih game yang edukatif dan ramah anak, serta memperhatikan rating usia seperti PEGI atau ESRB.
Game kreatif seperti Minecraft (mode tertentu) atau Toca Life World bisa menjadi alternatif yang lebih aman dan mendukung perkembangan kreativitas.
4. Awasi Interaksi Online dalam Game
Banyak game modern memiliki fitur chat atau komunikasi antar pemain. Di sinilah risiko mulai muncul, seperti cyberbullying, penipuan, hingga interaksi dengan orang asing.
Orang tua perlu memastikan anak tidak membagikan data pribadi kepada siapa pun. Jika perlu, fitur chat bisa dinonaktifkan untuk mengurangi risiko tersebut.
Pendampingan saat anak bermain juga menjadi langkah efektif untuk memahami siapa saja yang mereka temui di dunia digital.
5. Hindari Pembelian Tanpa Pengawasan
Game saat ini sering menawarkan pembelian item atau top-up. Tanpa pengawasan, anak bisa melakukan transaksi tanpa sadar.
Untuk mencegah hal ini, aktifkan pengamanan seperti password atau verifikasi sebelum pembelian.
Baca Juga: Murah tapi Efektif Melindungi! Ini 5 Alasan Silicone Case Jadi Favorit Pengguna HP
Selain itu, penting juga mengedukasi anak tentang nilai uang agar mereka memahami konsekuensi dari setiap transaksi.
6. Bangun Komunikasi yang Terbuka
Pengawasan tidak selalu berarti pembatasan ketat. Komunikasi yang baik justru menjadi kunci utama.
Orang tua bisa menanyakan game apa yang dimainkan anak, bahkan sesekali ikut bermain bersama. Dengan pendekatan ini, anak akan lebih terbuka dan mudah diarahkan.
Anak yang merasa didengarkan cenderung lebih patuh dibanding yang hanya diberi aturan tanpa penjelasan.
7. Seimbangkan dengan Aktivitas di Dunia Nyata
Game tidak boleh menjadi satu-satunya aktivitas anak. Penting untuk menyeimbangkan dengan kegiatan lain seperti olahraga, membaca, atau bermain bersama teman.
Aktivitas offline membantu perkembangan fisik, sosial, dan emosional anak agar tetap optimal.
Editor : Andi Chorniawan